Sejak masih Sekolah Dasar, gadis yang akrab disapa Iren itu sudah bercita-cita menjadi dokter. Dengan kecerdasannya, orang tua Iren, Hasanudin (41) dan Suhartini (37) mendukung Iren masuk kelas akselerasi ketika bersekolah di SMPN 2 Semarang.
"Dari kecil memang ingin jadi dokter. Muncul semangat. Memang ingin coba akselerasi, tes ternyata lulus dan jalani. Ternyata kok banyak yang lebih pintar, saya nilainya enggak sebaik mereka, tapi saya berusaha terus," kata Iren saat ditemui detikcom di rumahnya, Jalan Singa Timur 1 nomor 29, Semarang, Jumat (3/6/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Awalnya SMA enggak dibolehin ke akselerasi, tapi akhirnya didukung. Baru pas SMA itu mulai buka-buka buku cari tahu tentang ilmu kedokteran," pungkas dara kelahiran 17 Februari 2001 itu.
"Ya awalnya kurang setuju karena dengan usia segitu, seperti 'dipaksa' pergaulan seperti itu (akselerasi)," timpal ayahnya, Hasanudin.
Gadis itu menyelesaikan pendidikannya di SMAN 3 Semarang selama 2 tahun. Kemudian ia mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan dinyatakan lolos. Awalnya ia ingin masuk Universitas Gajah Mada (UGM), namun setelah berbagai pertimbangan, ia memilih Unair.
Saat dinyatakan lolos SNMPTN, Iren melanjutkan mengikuti prosedur mulai dari registrasi hingga menjalani berbagai tes. Iren ternyata bisa lulus dan resmi menjadi mahasiswi termuda di FK Unair.
"Alhamdulillah tes kesehatan sekali, soalnya ada yang sampai harus mengulang. Biasanya masalah di telinga. Terus ELPT (English Language Proficiency Test) juga lolos, kalau tidak harus ada mata kuliah wajib lainnya," terangnya," terang Iren.
Sejak masih duduk di SMP, Iren memang suka tantangan, dan ketika kuliah ia sengaja memilik Unair karena merasa tertantang jauh dari rumah. Orangtua Iren ternyata mendukung dan tetap memberikan dukungan dengan memberikan pengawasan meski beda Kota.
"Ya merasa tertantang. Sudah dapat kos kemarin, dekat sama kampus. Soalnya belum punya SIM, jadi cari yang dekat," tandasnya.
Tinggal selangkah lagi Iren menggapai cita-citanya menjadi dokter. Ia ingin berprofesi menjadi dokter spesialis anak. Jiwa sosialnya memang tinggi karena sering mengikuti kegiatan sosial.
"Ingin jadi dokter spesialis anak. Ya kalau bisa segera tercapai karena ingin cepat membanggakan orang tua," jelasnya.
Untuk menggapai cita-citanya, Iren selalu ingat dengan perjuangan orang tuanya. Oleh sebab itu sejak sekolah dasar Iren berteguh hati ingin menjadi dokter dan menjalani kelas akselerasi meski awalnya dirasa berat.
"Saya tetap fokus, ingat perjuangan orang tua yang berat dan tidak sebanding dengan perjuangan saya yang hanya seperti ini. Saya ingin banggakan orang tua," tegasnya. (alg/try)











































