"Saya ini pusing di kamar, itu tetangga kanan-kiri saya ribut karena dikira mereka tidak dikasih bingkisan. Saya ini punya darah tinggi dan nggak bisa tidur karena mereka berisik," ujar Suparmi saat ditemui di Unit Pelayanan Teknis (UPT) Pelayanan Sosial Lansia Banyuwangi di Jl Jember, Krikilan, Banyuwangi.
Nenek yang mengaku berasal dari Malang ini bercerita bagaimana kehebohan di kamarnya karena masalah bingkisan itu. Petugas panti yang sedang memeriksa tensi nenek Parmi dengan sabar meladeni 'curhat' itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penghuni UPT Pelayanan Lansia Banyuwangi |
Keluhan nenek Suparmi itu rupanya hal yang biasa terjadi di panti jompo milik Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur di Banyuwangi. Meski berusia lanjut dan tinggal bersama, kakek dan nenek di sana seringkali ribut karena hal sepele.
"Di sini apa saja jadi masalah, seperti pembagian simbolis bingkisan itu tadi sudah saya beritahu bila bakal menimbulkan keributan. Ya gini ini wes. Bukan bermaksud gimana-gimana hanya pembagian bingkisan itu memang sebaiknya bersamaan dan diberi nama untuk setiap orangnya," ujar Irwan.
Irwan menceritakan bagaimana ulah salah seorang nenek yang bisa menukar uang Rp 100 ribu milik temannya dengan uang mainan, kemudian ada juga yang bisa mengambil barang bingkisan milik temannya yang tak bernama untuk ditukarkan dengan uang atau kopi. Ada pula ulah kakek-kakek yang bisa melompat pagar untuk kabur karena ngambek.
"Di sini itu ada-ada aja wes, meski sudah tua ada aja ulahnya. Uang Rp 100 ribu dapat dari tamu milik temannya bisa ditukar uang mainan, saya aja bingung mereka dapatnya dari mana. Belum lagi setiap tahun kan dapat selimut atau seragam baru itu nggak pernah ada bekasnya, izin keluar tahu-tahu pulang bawa uang atau kopi. Ternyata dijual di pasar Krikilan oknumnya ya itu-itu aja wes," katanya.
Foto: Aditya Mardiastuti/detikcom |
"Ada juga yang nekat loncat pagar atau sampai bobol gembok pagar. Padahal sudah kita pake gembok yang ada kunci angkanya, wes gak kehitung ganti berapa kali. Ya kadang gitu itu cuma karena pengen ngopi padahal mereka kan punya darah tinggi kan, sampai nekat seperti itu lho," paparnya.
Tak hanya itu, dia menceritakan bila setiap lansia yang masuk ke panti harus melalui beberapa syarat yang telah ditetapkan oleh Dinas Sosial provinsi. Namun seringkali aturan itu pun berlaku lunak demi alasan kemanusiaan untuk membantu si nenek atau kakek.
"Di sini kan syaratnya dari pusat usia minimal 60 tahun, tidak ada kecacatan dan ada surat keterangan dari dokter tapi ya karena alasan kemanusiaan kita nggak bisa nolak," paparnya.
Hal senada juga diucapkan petugas panti lainnya, Umu Azizah, dia menyebutkan total lansia yang dirawat oleh pantinya sejumlah 70 orang yang terdiri dari 38 wanita dan 32 pria. Lansia-lansia itu dilayani oleh 18 petugas yang berstatus PNS dan sisanya honorer. Azizah bercerita pantinya memang mengutamakan untuk melayani lansia yang telantar, tidak mampu dan kiriman dari panti lain.
"Sering dapat kiriman, menurut ketentuan tidak bisa menerima tapi faktor kemanusiaan gimana lagi. Kalau panti di sana penuh kita kosong ya diterima. Harus pas 70 orang," jelasnya.
Foto: Aditya Mardiastuti/detikcom |
Pantauan detikcom untuk lansia yang sudah tidak produktif tinggal di satu sal yang sama. Ada sekitar 15 kasur untuk satu sal dan total sal yang dimiliki oleh panti ini ada tiga ruangan.
Kondisi sal khusus ini cukup bersih hanya saja sedikit berbau tidak sedap karena sal khusus ini melayani lansia yang memang tidak bisa beranjak dari kasurnya. Sedangkan untuk lansia yang tergolong sehat mereka tinggal di dalam kamar yang berisi tiga orang. Lansia yang dirawat pun kondisinya beragam. Ada yang menderita down syndrome, ada juga schizophrenia dan kebanyakan sudah rabun dan tuli.
Panti ini juga dilengkapi dengan taman, musala dan kantin. Tak hanya tinggal dan dirawat di panti itu, para lansia ini juga diberi kegiatan lainnya.
"Senin pelatihan membuat keset, Selasa bimbingan rohani atau kesehatan, Rabu hiburan dengan nyanyi-nyanyi bareng, Kamis keterampilan untuk membuat kemoceng atau bercocok tanam. Untuk keterampilan hanya diikuti oleh yang masih produktif saja karena banyak yang sudah rabun atau yang memang sudah tidak memungkinkan ya tidak kami beri kegiatan ini," jelas pria yang sudah bekerja di panti sejak tahun 2010 itu. (ams/trw)












































Penghuni UPT Pelayanan Lansia Banyuwangi
Foto: Aditya Mardiastuti/detikcom
Foto: Aditya Mardiastuti/detikcom