Seperti dilihat detikcom siang ini, Rabu (1/6/2016), masih terdapat gerombolan motor dan PKL di bawah jembatan penyebrangan dan Stasiun Sudirman. Di antara mereka masih ada yang tidur di depan gedung perkantoran menunggu penumpang dan masih ada pula yang menjajakan jajanannya di bawah tangga JPO Halte Karet.
Ojek pangkalan bernama Nanang (44) asal Jakarta mengaku tahu bahwa sering ada razia. Namun menurutnya penertiban tersebut tidak berdampak karena di situlah ia mencari nafkah bagi keluarganya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kata Nanang, jika ada razia maka dia akan tengak tengok dan kabur. "Kalau nggak disini kapan dapat duitnya. Harus lebih jeli dan waspada ngelihat situasi," jelas Nanang.
Beda cerita dengan Suwarno (49), PKL asal Kuningan, Jawa Barat. Dia baru menjadi PKL sekitar Sudirman-Thamrin selama 6 bulan terakhir setelah sebelumnya berdagang gorengan di Pasar Tanah Abang.
"Kalau saya kan gampang. Cuma bawa gendongan ini. Jadi kalau ada razia saya masuk ke halaman perkantoran," ujar Suwarno.
Menurut Suwarno, ia menjadi PKL di sekitar Sudirman-Thamrin memang karena di situlah banyak pekerja yang membeli dagangannya. Biasanya ia akan mulai mangkal mulai dari jam 11.00 WIB.
"Kerja ya saat pegawai kantor keluar makan siang sampai sore saat jam pulang kantor," pungkas dia. (dra/dra)











































