"Ini Golkar cari keuntungan dari sini. Setelah didera perpecahan yang panjang Golkar butuh strategi khusus. Jadi mencari isu populer dan kontroversial, seperti mengusung Jokowi ke Pilpres, mendukung Ahok di Pilgub DKI, dan mewacanakan Soeharto jadi pahlawan nasional," kata peneliti CSIS Arya Fernandes kepada wartawan, Selasa (31/5/2015).
Dengan melontarkan isu-isu semacam itu manuver Golkar akan muncul dalam berbagai perbincangan politik. "Jadi mereka butuh isu yang strategis agar bisa diperbincangkan," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya kira ini adalah cara Novanto untuk memperbaiki hubungannya dengan Jokowi setelah polemik papa minta saham kemarin. Yang kedua ini juga cara Novanto untuk memperbaiki citranya di depan publik setelah diterpa isu negatif banyak dia butuh citra baru dan salah satu cara mendekati presiden karena presiden kan citranya masih baik," kata Arya.
"Sejak papa minta saham kan kartu Novanto mati dan satu cara untuk menghidupkan kembali ya mendukung presiden di 2019 jadi punya gawean baru. Yang keempat adalah ini untuk meningkatkan daya tawar Golkar di depan pemerintah, Golkar memberikan sesuatu yang tidak diberikan parpol pengusung lainnya apalagi di tengah hubungan PDIP yang kurang harmonis dengan Jokowi," imbuhnya.
Apakah ini benar-benar murni Golkar yang 'menunggangi' Jokowi. Atau sebenarnya ada manuver lain yang tengah menatap Pilpres 2019?
"Setiap politisi pasti akan mempersiapkan diri, jadi buat Jokowi kampanye jangka panjang. Tapi Jokowi juga ingin melihat reaksi PDIP sekarang. Apakah reaksi PDIP positif atau nggak atau bagaimana. Karena penting dilihat oleh Jokowi karena dia ingin memastikan apakah PDIP mengusungnya di Pilpres 2019 atau tidak," ujar Arya mengakhiri analisanya.
(van/nrl)











































