"Ada mekanisme yang disiapkan secara sistematis dalam pembuatan soal sehingga paling tidak menurunkan risiko (kecurangan)," ujar Ketua SBMPTN Panlok 46 Yogyakarta Prof Iwan Dwiprahasto.
Hal ini disampaikan Iwan dalam jumpa pers SBMPTN 2016 di gedung rektorat Universitas Gadjah Mada (UGM), Sleman, Senin (31/5/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penggeledahan dilakukan pada setiap peserta sebelum masuk ruang ujian. Bahkan di beberapa lokasi, panitia menyediakan metal detector untuk menghindari masuknya alat-alat elektronik maupun alat komunikasi oleh peserta.
"Tapi memang belum di semua tempat. Tapi kami sediakan beberapa karena pengalaman yang sudah-sudah, peserta menyembunyikan ponsel di rok, atau di balik pakaiannya," jelas Iwan.
Rektor UGM Prof Dwikorita menyebutkan bahwa ada ada 1.838 dosen, 2.092 tenaga pendidik, dan 262 orang guru yang menjadi pengawas di Yogyakarta.
Dari 38.854 peserta SBMPTN di Yogyakarta, terdapat 23 peserta berkebutuhan khusus. Telah disiapkan pengawas khusus dan koordinasi dengan keluarga peserta sejak beberapa hari sebelum ujian.
"Mereka terdiri dari 3 orang (2 tuna rungu, 1 tuna daksa) yang ujian di UGM, 8 orang (3 tuna netra, 4 tuna daksa, 1 tuna rungu) di UPN, 10 orang (7 tuna netra, 1 tuna daksa, 2 tuna rungu) mengikuti ujian di UNY, serta 2 orang (1 tuna netra dan 1 tuna rungu) di UIN Sunan kalijaga," urainya. (sip/trw)











































