Dilema Pencabutan 3 in 1 di Jalur Protokol, Antara Macet dan Hilangnya Joki

Dilema Pencabutan 3 in 1 di Jalur Protokol, Antara Macet dan Hilangnya Joki

Idham Kholid - detikNews
Senin, 30 Mei 2016 17:18 WIB
Dilema Pencabutan 3 in 1 di Jalur Protokol, Antara Macet dan Hilangnya Joki
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Aturan 3 in 1 yang dicabut Pemprov DKI menimbulkan pro kontra. Ada yang setuju karena jalan semakin macet dan bikin orang beralih ke angkutan umum. Ada juga yang mengeluh, karena tidak ada yang mengerem atau membatasi orang berkendara di Jakarta.

Setuju dan tidak setuju soal 3 in 1 ini menjadi isu utama saat kemacetan di Jakarta semakin bertambah. Lepas dari urusan gerbang tol, serta jalan yang rusak, sejumlah pembaca detikcom memang mengaku merasakan macet menjadi-jadi setelah 3 in 1 dicabut. Sebenarnya aturan 3 in 1 dihapuskan guna mencegah joki, apalagi anak-anak ikut dilibatkan. Eksploitasi anak pun terjadi.

"Saya biasa setiap hari berangkat kerja, Senin-Jumat PP, Bekasi Timur-Thamrin, dan mengalami dan merasakan langsung imbas 3 in 1 dihapus. Semakin menambah parah kemacetan, terutama pada jam pulang kerja. Ketika 3 in 1 masih diberlakukan, pada saat pulang kerja, saya biasa keluar kantor jam 16.30 WIB, bisa sampai rumah antara jam 17.30-17.45 WIB, sekarang setelah 3 in 1 dihapus, saya sampai rumah antara jam 18.15-18.30 WIB, terlihat sangat jelas dan nyata, efek 3 in 1 dihapus," jelas Adi P yang memberikan pendapatnya lewat email ke redaksi@detik.com, Senin (30/5/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Adi, sebaiknya sebelum ada peraturan pengganti, 3 in 1 jangan dihapus karena menambah kemacetan.

"Justru saya kira 3 in 1 bisa diberlakukan juga di jalan bebas hambatan (tol), khususnya pd hari dan jam sibuk, pada jam pulang kerja misalnya. Mungkin juga bisa diberlakukan aturan 4 in 1 atau 5 in 1 sekalian saya dukung, demi untuk pembatasan kendaraan pribadi di jalan," imbuh dia memberi alasan.

Senada dengan Adi P, pembaca lainnya Amanda juga mengeluhkan ketiadaan aturan yang membatasi pengendara. Aturan 3 in 1 selama ini dirasa cukup efektif meredam orang membawa kendaraan masuk ke jalur protokol.

"Semenjak 3 in 1 dihapus macet di jalan makin parah, saya kerja di daerah SCBD dan rumah di Tanjung Duren pulang pergi kantor naik kendaraan umum. Semenjak 3 in 1 dihapus ditambah bus yang mau masuk tol dipersulit, mau masuk Tol Semanggi tapi ditutup panjang atau udah antre sampai muter Semanggi. Pas mau masuk Tol Semanggi nggak boleh sama polisi bikin jalanan tambah semerawut," jelas Amanda.

Harusnya, lanjut Amanda, pemerintah jangan menghapus 3 in 1 kalau belum ada penggantinya. Kalau joki 3 in 1 menjadi alasan dihapusnya 3 in 1 harusnya polisi lebih bisa mengawasi joki yang di pinggir jalan atau menangkapnya.

"Saya pikir dengan sistem yang sebelumnya jauh lebih efektif, karena sangat susah untuk menghilangkan macet di Jakarta dan seharusnya jangan buat peraturan yang justru menambahnya," tegas Amanda.

Bagaimana menurut Anda? (dra/dra)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini