Pesta Pendidikan

Menteri Anies Ingin Ada Pegiat yang Kampanyekan Manfaat Baca Buku

Jabbar Ramdhani - detikNews
Minggu, 29 Mei 2016 15:13 WIB
Pesta Pendidikan 2016/ Foto: Jabbar Ramdhani-detikcom
Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan menyebut bahwa minat membaca masyarakat Indonesia ada di peringkat 60 dari 61 negara. Padahal, dalam hal fasilitas membaca, Indonesia berada di peringkat 34. Negara seperti Jerman, Belanda dan Selandia Baru ada di bawahnya.

Terhadap hasil survei ini, Anies berpendapat Indonesia sudah seharusnya lebih mendorong hadirnya pegiat literasi. Sebab, fasilitas yang ada sudah cukup baik.

"Jadi yang harus kita dorong, bukan fasilitas. Yang diperlukan hadirnya pegiat yg menyadarkan minat baca," ujar Anies di acara Pesta Pendidikan di FX Sudirman, Jakarta Selatan, Minggi (29/5/2016).

Maka, ke depan, Anies mengajak masyarakat untuk bekerja sama dengan fasilitas seperti Perpustakaan Nasional atau perpustakaan daerah. Indikator kerja perpusnas dan perpusda pun akan berorientasi pada pengadaan kegiatan literasi. Bukan lagi berorientasi pada pengadaan bahan bacaan.

Penulis buku, Gola Gong berpendapat masalah minimnya minat baca masyarakat, dikarenakan belum dipahaminya manfaat membaca buku. Ia mengusulkan agar para tokoh publik Indonesia ikut mengampanyekan budaya membaca.

"Barangkali kita tidak aktif memberitahu manfaat baca buku. Bisa saja ada poster atau baliho yang mengatakan saya bisa menjadi menteri karena membaca. Sehingga ada gambar Pak Anies sembari membawa buku, di belakangnya ada gambar rak buku di perpustakaan," ujar pengelola Rumah Dunia di Banten ini.

Terhadap statistik yang ada, Gola Gong sendiri tidak percaya. Pasalnya, di Indonesia masih banyak orang pandai. Dan soal minat membaca yang rendah, mungkin karena belum terekspos. Ia memberi usul kepada pemerintah untuk membentuk program nasional membaca dari Sabang sampai Merauke.

Atas usul ini, Anies menyatakan setuju. Menurutnya, pemerintah siap membiayai program-program yang berasal dari ide masyarakat. Solusi lain ditawarkan Menteri Anies. Di era multimedia, mendengarkan audio book juga dapat dilakukan. Meski mayoritas masih menggunakan bahasa Inggris, namun dapat dijadikan sara belajar bahasa Inggris pula.

Di tempat yang sama, Duta Baca Indonesia, Najwa Shihab, mengatakan, dalam hal budaya membaca, harus terus memaksa. Dia minta ada program untuk tidak melewatkan hari tanpa membaca. Najwa juga juga membuat tantangan kepada dirinya untuk menghabiskan sekian lembar bacaan dalam waktu yang ditentukan, sehingga kegiatan membaca menjadi rutinitas.

"Saya buat tantangan bagi saya dalam membaca. Setelah pagi, salat Subuh, saya mewajibkan diri membaca buku sebanyak 30 halaman. Luangkan waktu semampunya sebagai target diri. Dari 20 halaman sehari, dalam setahun kita bisa saja menghabiskan 50 buku lebih," ujar Najwa. (rvk/rvk)