ADVERTISEMENT

Mbak Tutut, Hartono, Wismoyo 'Diperiksa' DPR Soal Scorpion

- detikNews
Senin, 21 Mar 2005 10:04 WIB
Jakarta - Anda masih ingat tank Scorpion yang diributkan tahun lalu? Komisi I DPR mulai 'memeriksa' tiga orang penting yang diyakini bertanggung jawab terhadap pembelian tank buatan Inggris itu, Senin (21/3/2005).Ketiga orang itu adalah Siti Hardijanti Rukmana alias Mbak Tutut, mantan KSAD Jenderal (Purn) R Hartono, manta KSAD Jenderal (Purn) Wismoyo Arismunandar dan Dirut PT SUrya Kepanjeng Widorini S Sukardono alias Rini Suwondho."Pemeriksaan" itu digelar di Ruang Rapat Komisi I DPR dalam agenda Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU). Rapat dimulai pukul 09.30 WIB dipimpin Ketua Komisi I Theo L Sambuaga. Sebanyak 30 orang anggota telah datang.Dalam kesempatan itu, Tutut mengenakan setelan blazer hitam dipadu kerudung kuning bermotif hitam. Hartono mengenakan setelan jas hitam sedangkan Wismoyo setelan jas abu-abu. Saat berita ini diturunkan, Hartono tengah memberikan penjelasan.SuapDPR meneliti kasus tank Scorpion setelah ramai diberitakan adanya dugaan suap terhadap Mbak Tutut dengan jumlah yang menggiurkan. Ikhwal dugaan suap itu dilansir harian Inggris The Guardian pada akhir tahun lalu. Mengutip dokumen kesaksian eksekutif Alvis, Guardian menulis, perusahaan itu menyetorkan 16,5 juta poundsterling (sekarang sekitar Rp 291 miliar) kepada Tutut. Ini dilakukan untuk memuluskan transaksi penjualan 100 unit Scorpion, salah satu produk Alvis, senilai 160 juta poundsterling (sekarang sekitar Rp 2,8 triliun)."Madame Tutut," demikian eksekutif Alvis, Nick Prest, memanggil mantan Menteri Sosial itu, datang ke London pertama kali pada Februari 1994. Ia bertemu dengan Prest dan dua petinggi Alvis, Trevor Harrison dan Lionel Steele. Tutut mengaku mewakili perusahaan Global Select. "Tutut mendorong kami menjadikan dia dan rekan bisnisnya sebagai perusahaan konsultan (dalam penjualan)," kata Prest.Alvis menandatangani perjanjian dengan Tutut pada 4 Mei 1994 dan menjanjikan komisi untuk putri tertua Soeharto itu atas "bantuannya pada penjualan tank Scorpion". Tutut kembali datang ke Inggris dua bulan kemudian (Juli 1994) dan mengunjungi pabrik Alvis di Coventry. Ia mengajak Letnan Jenderal Hartono dan Letnan Jenderal H.B.L. Mantiri untuk "meyakinkan militer agar membeli Scorpion".Rini Suwondho, pemilik PT Surya Kepanjen, mitra lokal Alvis di Jakarta, bersaksi, pencairan anggaran saat itu hanya bisa dilakukan jika didukung Presiden Soeharto. Untuk itu, kata dia, biasanya diperlukan dukungan dari lingkaran dalam Cendana.Akhirnya, Alvis mendapatkan kontrak pembelian 50 tank Scorpion dengan harga 1,6 juta pound per unit. Pembelian pertama ini disetujui pemerintah Inggris setelah berbagai upaya lobi dilakukan Alvis. Izin ekspor keluar pada Maret 1995.Alvis kembali mendekati Tutut untuk mendapatkan kontrak penjualan yang lebih besar. Kesepakatan pembayarannya ditandatangani dengan perusahaan baru Tutut, Basque, yang berbasis di luar negeri.Muncul masalah baru karena Korea menawarkan barang yang sama dengan termin kredit yang sangat mudah dan murah. "Kami tidak mungkin memenangi persaingan dengan Korea.... Madame Tutut adalah cara untuk kembali memenanginya," demikian dokumen itu. Meski tank pertama yang dibeli tidak berfungsi normal, Indonesia bersedia mengeluarkan dana 80 juta poundsterling tambahan untuk membeli 50 Scorpion baru.Dokumen itu juga menunjukkan, penyuapan dilakukan Alvis di setiap tingkatan untuk memastikan mulusnya penjualan. Rini Suwondho, misalnya, bersaksi, "Menteri Pertahanan memerintahkan agar setiap pembelian peralatan pertahanan dari perusahaan asing harus melalui agen milik pensiunan tentara atau keluarganya."Rini juga bersaksi bahwa ia dan saudaranya, Didie, putra Brigjen Suwondho, pun menjaga kedekatan dengan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat Letjen Sahala. Namun, sang Jenderal ternyata meminta bagian tersendiri dengan melibatkan PT Truba yang disebutkan "perusahaan milik ABRI".

(nrl/)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT