Resep Akbar untuk Agung Laksono

Ricuh DPR (2)

Resep Akbar untuk Agung Laksono

- detikNews
Senin, 21 Mar 2005 09:26 WIB
Jakarta - Gaya kepemimpinan Agung Laksono ditengarai sebagai pemicu kericuhan dalam sidang paripurna pekan silam. Terkait kondisi ini, Akbar Tanjung punya resep jitu untuk Agung Laksono.Seperti diberitakan, kericuhan itu terjadi hanya beberapa saat Agung Laksono selaku pimpinan sidang mengetuk palu. Agung memutuskan sidang dilanjutkan untuk melakukan voting terhadap dua opsi yang ada. Agung tidak memperdulikan banyaknya interupsi dari sejumlah anggota dewan yang menginginkan DPR segera membuat keputusan menerima atau menolak kenaikkan BBM.Selaku Ketua DPR dan pimpinan sidang, tindakan Agung ini dinilai melecehkan anggota lainnya. Agung juga dinilai tidak netral dan cenderung membela pemerintah karena tidak membiarkan anggota DPR lainnya berbicara. Agung juga disinyalir memiliki agenda tersendiri dalam sidang paripurna tersebut.Sebenarnya kecurigaan terhadap Agung itu bisa dipahami. Maklum, posisi Agung selaku Wakil Ketua Umum di Partai Golkar berada langsung di bawah kendali Jusuf Kalla yang notabene adalah Wakil Presiden. Setelah resmi dipimpin Kalla, Golkar memang diprediksi tidak akan lagi bersikap kritis terhadap pemerintah.Buntut peristiwa itu, banyak pihak kemudian membandingkan gaya kepemimpinan Agung dengan pendahulunya, Akbar Tandjung. Pengamat politik dari Mega Center, Cornelis Lay menilai, skill atau kemampuan Agung memimpin jalannya persidangan dinilai jauh berada di bawah Akbar Tanjung.Akbar Tandjung sendiri saat ditemui detikcom di kantornya, di Gedung Bursa Gagasan, Kuningan, Jakarta Pusat, mengaku sangat prihatin atas kericuhan yang terjadi di DPR. Menurutnya, peristiwa yang nyaris berujung pada bentrokan fisik sesama anggota DPR itu tidak boleh terulang.Akbar sependapat jika faktor kepemimpinan Agung Laksono menjadi salah satu pemicu peristiwa memalukan itu. Karena itu, Akbar pun kemudian bersedia membeberkan resep bagaimana menjadi seorang pimpinan sidang yang baik untuk Agung Laksono.Akbar menjelaskan, untuk memimpin sebuah persidangan seseorang membutuhkan berbagai macam keterampilan tersendiri, termasuk juga memahami psikologi peserta sidang. Seorang pemimpin sidang juga harus bisa mengambil keputusan dengan momen yang tepat untuk menghindari reaksi yang keras.Akbar menambahkan, situasi persidangan di DPR juga kerap memiliki dinamika yang sangat tinggi. Dimana berbagai isu bisa bermunculan dalam waktu yang singkat. Dalam hal ini, kepiawaian pemimpin sidang menangani isu-isu tersebut dengan tepat juga sangat diperlukan."Mungkin saja anggota dari floor maju ke depan karena merasa pemimpin forum tidak menjelaskan secara rinci alasan-alasan dari opsi-opsi yang ada, terutama opsi yang baru sehinga floor bereaksi. Kalau pimpinan bisa menjelaskan secara baik dan rinci, mungkin floor tidak akan bereaksi seperti itu," ungkap Akbar.Akbar menambahkan, dalam situasi tertentu pimpinan sidang juga tidak boleh tergesa-gesa mengambil keputusan. Dalam kondisi panas seperti sidang paripurna kemarin, pimpinan sidang seharusnya menskors sidang. Selanjutnya menyerahkan kepada masing-masing fraksi untuk menjelaskan dulu hasil konsultasi tersebut. Dengan demikian, bukan pimpinan sidang yang akan berhadapan dengan floor.Sayangnya, kata Akbar, hal tersebut tidak dilakukan oleh Agung Laksono. Sebaliknya, Agung malah memilih untuk segera mengetuk palu mengambil keputusan. Hal ini justru menimbulkan kecurigaan peserta sidang ada agenda tertentu dari pimpinan sidang. Buntutnya, peserta sidang maju ke depan mencari jawaban."Di dalam sidang, apa lagi sidang paripurna, setiap orang berhak mengetahui apa latar belakang sebuah keputusan diambil atau sebuah opsi dipilih. Mungkin dia (Agung) terlalu berfokus terhadap dua opsi itu dan tidak menjelaskan bagaimana munculnya dua opsi tersebut, dasar-dasar opsi tersebut," ungkap Akbar.Kritikan terhadap kepemimpinan Agung juga disampaikan pengamat politik sekaligus peneliti, Sukardi Rinakit. Menurut Sukardi, Agung Laksono tidak memiliki sejumlah kriteria yang harus dimiliki seorang pemimpin sidang. Akibatnya, kepemimpinan Agung tidak bagus dan efektif.Sukardi menjelaskan, seorang pemimpin sidang harus memiliki daya tahan yang tinggi terhadap interupsi dan argumen terhadap masalah yang ada. Pengalaman memimpin sidang juga harus ada sehingga mampu bekerja dengan netral.Komentar miring terhadap gaya kepemimpinan Agung Laksono juga disampaikan pengamat politik Arbi Sanit. Menurut Arbi, cara memimpin yang ditunjukkan Agung Laksono sama saja 'bunuh diri'. Dari kejadian tersebut, pemerintah memang jelas sangat diuntungkan."Agung Laksono sendiri sebagai pemimpin sidang tersebut telah melakukan bunuh diri dengan melindungi dan menjadi alat pemerintah. Akibatnya yang buruk justru citra dia bukan citra pemerintah," tutur Arbi. (djo/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads