Dari sisi timur, warga merasakan kemacetan yang makin parah di Jl MT Haryono dan Gatot Subroto. Durasi perjalanan mereka jadi bertambah.
Kepadatan di perempatan Kuningan |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang dua jam lebih," kata Bernard.
Menurut Bernard, tingkat kemacetan meningkat setelah dilakukannya uji coba penghapusan 3 in 1. Untuk diketahui, sekarang penghapusan sistem 3 in 1 itu sudah berstatus permanen.
"Waktu abis mengantre di exit tol Halim. Dari dulu di sana makin macet, tapi sekarang antreannya makin panjang," kata Bernard.
Macet parah di exit Tol Halim |
"Dulu saya selalu naik APTB atau Mayasari buat ke kantor. Sekarang kalau pagi langit sudah mendung atau hujan, langsung nyalain mobil," kata Tomi.
Tomi kini leluasa mengeluarkan mobil dari garasi mobilnya untuk berangkat kerja karena tak ada lagi aturan yang menghalanginya masuk 'Segitiga Emas' dalam posisi sendirian di dalam mobil.
"Tapi lama-lama kok kerasa makin macet. Pas balik naik bus lagi juga makin macet rasanya. Pasti banyak juga nih yang selama ini menyimpan mobilnya di rumah lalu pakai mobil pas nggak ada 3 in 1," kata Tomi.
Kemacetan di Tol Dalam Kota
Tak hanya di jalan arteri, kemacetan juga terjadi di tol dalam kota. Antrean panjang biasa terjadi di exit tol yang ada di kawasan strategis.
"Sekarang harus pagi ke kantor, tol dalam kota macetnya makin menjadi-jadi," kata Intan, pekerja di kawasan Gatot Subroto yang biasa mengakses tol dalam kota.
Kemacetan di tol dalam kota |
Baca Juga: Evaluasi Uji Coba Penghapusan 3 in 1, Kemacetan Meningkat 24,3 Persen
Sedangkan Polda Metro Jaya sempat menyatakan sistem 3 in 1 tetap relevan untuk mengurangi kemacetan. Bahkan rapat Polda Metro dengan Dishub DKI sempat memunculkan gagasan sistem dengan batasan yang lebih ketat: 4 in 1.
Baca Juga: Jika 3 In 1 Dihapus, Muncul Wacana Pemberlakuan 4 in 1
(faj/nrl)











































Kepadatan di perempatan Kuningan
Macet parah di exit Tol Halim
Kemacetan di tol dalam kota