Memperingati dahsyatnya peristiwa alam tersebut, warga menggelar renungan. Ratusan warga khusyuk menggelar renungan dan doa di tugu prasasti 'Gempa Bumi Bantul 27 Mei 2006' yang di mulai dengan salat subuh berjamaah di dusun Potrobayan, Pundong, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (27/5/2016).
Sejumlah warga terlihat tidak mampu menahan tangis sedih mengingat peristiwa gempa bumi waktu itu. Warga bersyukur masih diberi kesempatan karena selamat dari gempa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena ingat semua dosa, dan bersyukur masih diberi kesempatan untuk bertobat,"kata Sugiyem pada saat mengikuti renungan di tugu prasasti Gempa Bumi Bantul.
Ia menceritakan rumahnya yang hancur. Dan ibunya meninggal akibat luka karena terkena robohan rumah. Ibunya mengalami luka patah tulang punggun dan kakinya patah. Setelah dua tahun, ibunya meninggal.
Kepala BPBD Bantul, Dwi Daryanto mengatakan renungan ini untuk mendoakan pada warga yang menjadi korban gempa bumi. 10 tahun peringatan gempa bumi ini menjadi momentum untuk mengigatkan warga untuk selalu meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan karena wilayah yang potensi rawan gempa bumi.
Renungan (Edzan Raharjo/detikcom) |
Di tugu prasasti inilah merupakan pusat episentrum gempa bumi tanggal 27 Mei 2006. Tugu prasasti ini sebagai saksi sejarah bahwa tanggal 27 Mei 2006, pukul 05.59 WIB, telah terjadi gempa bumi dengan kekuatan 5,9 SR, terjadi selama 59 detik. Gempa bumi tersebut telah menyebabkan kerusakan dan korban jiwa yang besar.
(dnu/dnu)












































Renungan (Edzan Raharjo/detikcom)