Muhammadiyah Rumuskan 6 Pokok Pikiran dalam KNIB di Yogyakarta

Muhammadiyah Rumuskan 6 Pokok Pikiran dalam KNIB di Yogyakarta

Sukma Indah Permana - detikNews
Selasa, 24 Mei 2016 18:38 WIB
Muhammadiyah Rumuskan 6 Pokok Pikiran dalam KNIB di Yogyakarta
Foto: Istimewa
Yogyakarta - Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan (KNIB) yang digelar Muhammadiyah resmi ditutup hari ini. Pertemuan yang dihadiri warga Muhammadiyah dari berbagai daerah ini menghasilkan 6 pokok pikiran.

"Pertama, Indonesia adalah rumah bersama yang dibangun di atas nilai-nilai dan cita-cita luhur 1945. Karena itu segenap komponen bangsa memiliki kewajiban kolektif membangun keunggulang bangsa," ujar Ketua PP Muhammadiyah Dahlan Rais.

Hal ini disampaikan Dahlan dalam penutupan KNIB di kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Bantul, Selasa (24/5/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keunggulan bangsa yang dimaksud ditopang oleh kepemimpinan perubahan, budaya publik yang rasional-konstruktif, politik yang demokratis-berkeadaban yang efektif dan produktif. Serta ekonomi yang Berdaya saing tinggi, menuju Indonesia yang adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat.

"Kedua, bangsa Indonesia harus bekerja lebih keras, cerdas, kreatif, inovatif dan percaya diri untuk menyelesaikan masalah kesenjangan sosial, politik, korupsi, kekerasan, moralitas, kriminalitas, dan daya saing yang rendah," urainya.

Pokok pikiran ketiga, kata Dahlan, dalam bidang politik perlu didorong konsolidasi demokrasi yang berbasis nilai, etik, dan amanah untuk memperkuat good governance, clean government dan meritokrasi. Sehingga melahirkan kepemimpinan nasional dan daerah yang kuat, melayani, mementingkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi, partai politik, dan primordialisme agama dan budaya.

Sedangkan dalam bidang hukum dan pemerintahan, yang dirangkum di poin keempat, diperlukan penguatan Indonesia sebagai negara hukum di mana seluruh sistem penyelenggaraan negara dan masyarakat mematuhi hukum yang berlaku.

"KNIB memandang penting dilakukannya amandemen kelima UUD 1945 terutama yang berkait dengan haluan negara, kedudukan, susunan, dan fungsi MPR dan DPR," kata Dahlan.

Selain itu, KNIB juga menilai pentingnya penguatan Pancasila sebagai Dasar Negara dan sumber nilai dan etik yang memandu dan mempersatukan bangsa Indonesia dalam mencapai tujuan nasional Indonesia sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945.

"Kelima, bangsa Indonesia memerlukan revolusi mental dan revolusi budaya sebagai prasyarat membangun bangsa yang berkarakter kuat, berakhlak mulia, berkeadaban luhur yang dibangun melalui pendidikan yang bermutu dan berkeunggulan," ulasnya.

Keenam, kata Dahlan, bangsa Indonesia memerlukan tatanan kehidupan sosial dan politik yang lebih kuat berlandaskan spirit persatuan Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika dan visi bersama.

"Ini untuk mewujudkan Indonesia sebagai bangsa yang kuat dan bermartabat," kata Dahlan.

KNIB secara resmi ditutup oleh Mendikbud Anies Baswedan. Dalam sambutannya, Anies berharap Muhammadiyah menyediakan fasilitas pendidikan yang menjadi contoh yakni sekolah yang berintegritas dan memberi terobosan. Salah satunya adalah memberi ruang untuk anak muda.

"Terobosan, melakukan pembaharuan memang selalu tidak nyaman. Tapi yang kita dapat sekarang adalah efek dari terobosan masa lalu," kata Anies. (sip/bag)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini