Mencari Cagub DKI Terbaik

Kisah Kang Yoto Bangun Bojonegoro: Usir 6 Setan dan Datangkan 6 Malaikat

Bagus Kurniawan - detikNews
Selasa, 24 Mei 2016 17:12 WIB
Bupati Bojonegoro Suyoto atau akrab disapa Kang Yoto menyampaikan gagasan di Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan (KNIB) di UMY, Selasa 24 Mei 2016 (Foto: Bagus Kurniawan/detikom)
Bantul - Jalan panjang dan berliku yang dilalui Bupati Bojonegoro, Suyoto, saat menjadi bupati di wilayah paling barat di Provinsi Jawa Timur yang berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah. Sebelumnya, Bojonegoro dikenal sebagai daerah pertanian yang miskin dan sering dilanda banjir akibat luapan Sungai Bengawan Solo.

Namun saat ini, di masa kepemimpinan Kang Yoto, panggilan akrabnya itu, Bojonegoro sudah tidak mengalami banjir lagi di saat musim penghujan dan surplus hasil pertanian.

"Saya menjadi Bupati Bojonegoro sudah 9 tahun atau sudah 2 periode," kata Kang Yoto dalam dialog Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan (KNIB) di Gedung AR Fachruddin lantai 5, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Selasa (24/5/2016).

Kang Yoto kemudian menceritakan pengalaman keberhasilan Bojonegoro keluar dari kemiskinan. Kabupaten Bojonegoro luas wilayah 4 kali lipat luas DKI Jakarta, namun penduduknya miskin dengan hasil pertanian dan sering dilanda banjir luapan Sungai Bengawan Solo.

"Dulu 30 juta tahun lalu, wilayah Bojonegoro itu laut, kemudian jadi daratan. Bengawan Solo sering banjir, rawan kekeringan dan dari sisi kultural zaman Mojopahit ada peristiwa atau konflik Bedander," katanya.

Menurutnya jumlah penduduk miskin mencapai 28 persen dengan kondisi jalan banyak yang rusak serta pemerintah tidak memberikan ruang publik bagi warganya. Ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan oleh Kang Yoto saat awal-awal menjadi bupati.

"Yang harus saya lakukan pertama adalah keluar dari kemiskinan dan menjadi mandiri," katanya.

Dia kemudian memetakan permasalahan satu-persatu. Hasilnya ada 6 masalah dasar yang disebut dengan sebutan 6 setan atau penyakit di wilayah Bojonegoro.

Keenam setan itu di antaranya merasa takut mengalami kesulitan, orang ingin mudah tanpa ada usaha, tidak bertanggung jawab, ingin serba instan atau cepat, budaya iri dengki dan budaya meminta.

"Kalau sudah meminta kemudian dapat apa. Itu jadi tantangan kami untuk mengatasi semua masalah satu persatu," papar Kang Yoto.

Foto: Bagus Kurniawan/detikcom

Kang Yoto juga bercerita pengalamannya saat menggelar dialog publik bersama warga Bojonegoro setiap hari Jumat di pendopo kabupaten. Pada awalnya dialog tersebut menjadi forum sumpah serapah, orang marah-marah, berdebat dan saling menghujat.

"Baru delapan bulan kemudian dialog publik itu baru terwujud menjadi dialog yang bermakna bukan untuk marah-marah mengutamakan egonya sendiri," kata Kang Yoto yang langsung disambut tepuk tangan peserta yang memenuhi ruangan dialog.

Dia mengatakan dari berbagai hal yang telah dikerjakan itu, saat ini Bojonegoro telah meraih berbagai penghargaan di bidang pemerintahan. Salah satunya penghargaan yang diraih bersama kota-kota lain yakni Madrid Spanyol, Paris Perancis, dan Seoul Korea Selatan.

"Kita sudah mendeklarasikan Bojonegoro yang bebas, mandiri, surplus pangan dan daerah yang ramah. Ini sangat bermakna karena berhasil mengusir 6 setan dan mendatangkan 6 malaikat," gurau Kang Yoto.

Selain itu, Bojonegoro juga sudah tidak dilanda banjir lagi saat musim penghujan akibat luapan Sungai Bengawan Solo. Hasil tanaman padi juga surplus sehingga tidak akan mengalami kekurangan lagi. Di tanah-tanah yang dulunya langganan banjir berhasil ditanami pohon belimbing.

"Air juga tidak kita buang-buang begitu saja saat banjir tapi kita manfaatkan untuk produksi air minum yang ditambah dengan campuran sarang burung walet. Harganya juga tinggi Rp 3.500 per botol," katanya.

Dia menambahkan hasil pendapatan pajak dari sektor pertambangan yakni minyak dan gas akan digunakan untuk dana abadi. Dana dari sektor ini akan digunakan untuk mendukung warga Bojonegoro dalam bidang pendidikan.

"Untuk peningkatan SDM, kalau mereka sudah berkerja harus mengembalikan, tapi kalau tidak ya gak apa-apa. Syarat adalah punya akte kelahiran Bojonegoro," pungkas Kang Yoto. (bgs/trw)