Minta Hujan, Warga Paneki, Donggala Gelar Mora'a Vunja'a
Minggu, 20 Mar 2005 14:04 WIB
Palu - Kemarau panjang setahun terakhir membuat warga di lima desa di aliran sungai Paneki, Donggala, Sulawesi Tengah, resah. Mereka gagal memanen padi dan palawija yang mereka tanam. Karena itulah mereka menggelar ritual mora'a vunja'a untuk minta hujan. Ritual mora'a vunja'a ini digelar di aliran sungai Paneki di Desa Paneki, Kecamatan Sigi Biromaru, Donggala, Minggu (20/3/2005). Acara ini diikuti oleh sekitar 100 warga. Mora'a vunja'a ini secara harfiah berarti meneteskan darah di bendungan. Karena itu, dalam acara ritual ini, warga menyembelih dua ekor hewan, yaitu satu ekor kambing warna putih dan satu ekor ayam berbulu putih. Saat menyembelih dua ekor hewan ini, darah hasil sembelihan dialirkan ke sungai Paneki. Kemudian, aliran air yang bercampur darah ini dipakai untuk memandikan seorang putra keturunan langsung dari raja terakhir di Donggala, Sukirman Lamakarate. Ayam yang sudah terpotong di bagian leher itu kemudian dihanyutkan ke sungai. Sedangkan untuk kambing, hanya bagian kepalanya yang dihanyutkan. Sedangkan badan kambing diambil warga.Aksi ritual ini diikuti oleh warga di lima desa di aliran sungai Paneki ini, yaitu desa Pombewe, Loru, Lolu, Biromaru, dan Petobo.Menurut Lakapa, sesepuh adat setempat, acara ini selain mengingatkan warga agar selalu bersyukur atas karunia Tuhan juga dimaksudkan untuk upacara meminta hujan. Kemarau panjang di lima desa ini belum ada tanda-tanda akan berhenti. Selain itu, acara ini juga dimaksudkan untuk membersihkan dosa. Rencananya, malam nanti, masyarakat lima desa ini akan kembali menggelaer upacara adat di Baruga di Desa Loru, Kecamatan Bilimaru. Kemudian pada 30 Maret, juga akan digelar upacara adat di sekitar lembah Palu, di sungai Kelurahan Kawatuna, Palu Selatan.
(asy/)











































