Selain dewan pembina, Munaslub Golkar juga menyepakati pembentukan Dewan Kehormatan Partai Golkar. Struktur ini dibentuk untuk menghormati para sesepuh yang berjasa membesarkan Golkar.
Sejumlah nama politisi senior Golkar seperti Akbar Tandjung, BJ Habibie, dan Wapres Jusuf Kalla disebut akan menempati ruang ini. Ketiganya dianggap memiliki perjalanan panjang dalam membesarkan Golkar dan layak menempati pos sebagai dewan kehormatan Golkar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan berbagai peluang yang tersisa itu, ke mana Akbar Tandjung bakal melangkah? Ternyata Akbar Tanjung belum tertarik menjawab pertanyaan ini. Akbar enggan berspekulasi soal masa depan kariernya di Golkar.
"Saya belum bisa mengatakan sesuatu dulu karena saya belum dengar langsung dari yang bersangkutan jadi saya belum bisa memberikan tanggapan," jawab Akbar saat ditanya soal kemungkinan dirinya masuk dalam dewan pakar atau dewan kehormatan Golkar, dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (24/5/2016).
Sekilas Sepak Terjang Akbar Tandjung
Sepak terjang Akbar Tandjung di panggung politik tak diragukan lagi, Akbar juga dianggap sebagai salah satu mahaguru di internal Golkar. Betapa tidak, Akbar sudah banyak makan asam garam di partai beringin, Akbar menjadi saksi jatuh bangun beringin di masa-masa sulit.
Akbar Tandjung yang lahir 14 Agustus 1945 di Sibolga ini sudah terjun ke dunia organisasi sejak muda, pada periode 1969-1970, ia menjabat Ketua Umum HMI Cabang Jakarta. Pada 1972, ia turut mendirikan Forum Komunikasi Organisasi Mahasiswa Ekstra Universiter (GMNI, GMKI, PMKRI, PMII, dan HMI) dengan nama Kelompok Cipayung. Periode 1972-1974, ia menjabat Pengurus Besar HMI.
Di luar jabatan politik, Akbar punya sederet pengalaman di pemerintahan, Akbar pernah menjabat sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olahraga pada periode 1988-1993, Menteri Negara Perumahan Rakyat (1993-1998), Menteri Negara Perumahan dan Pemukiman (1998), dan pada 1999-2004 ia menjabat Ketua DPR RI. Dengan banyaknya jam terbang, Akbar kerap disebut sebagai mahaguru di internal partai beringin. Dalam melakukan manuver politik, selama ini Akbar dikenal paling lihai. Beberapa kali Akbar mengkritik kepemimpinan Ketum Aburizal Bakrie namun pada akhirnya mesra kembali.
Akbar yang menjabat Ketua Wantim Golkar hasil Munas Riau dan berlanjut ke Munas Bali ini menyarankan agar Ical menggelar Munas untuk menyelesaikan perpecahan Golkar. Namun apa yang disampaikan Akbar berbuah pahit, dia malah dapat sanksi teguran yang disampaikan oleh Waketum Nurdin Halid. Akbar tersinggung berat, ia pun tak hadir ke Rapimnas Golkar hasil Munas Riau yang berujung SK Menkum HAM sebagai dasar pelaksanaan Munas Golkar.
Singkat cerita, Munaslub Bali akhirnya mengakhiri perpecahan internal Golkar. Kini ke mana sang mahaguru akan melangkah? (van/try)











































