Ketua Umum Peradi, Fauzie Yusuf Hasibuan, mengatakan, secara statistik Indonesia masih membutuhkan tambahan advokat. Namun kualitas tetap harus terjaga, di samping pendistribusiannya di seluruh tanah air.
"Sehingga advokat tidak hanya berkumpul di kota besar, namun hadir di setiap kabupaten atau kota agar kebutuhan masyarakat terlayani dengan baik," ucap Fauzie dalam siaran pers kepada detikcom, Selasa (24/5/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua Dewan Pembina Peradi, Otto Hasibuan, mengatakan Peradi tidak akan menurunkan passing grade kelulusan, yakni tetap mematok angka 70. Padahal di bar association hanya 60.
"Karena itu, Law Society England and Wells, menerima semua lulusan Peradi jika ingin menjadi anggota. "Itu sebabnya Law Society England and Wales, semua lulusan Peradi, emitted to the bar, langsung bisa diakui, bisa berpraktek di Inggris. Tertinggi di dunia passing grade-nya adalah Peradi," ujar Otto.
Sebelumnya, panitia membuka pendaftaran di 28 tempat di berbagai daerah di Tanah Air mulai dari tanggal 4 sampai dengan 8 April 2016 untuk menyambangi putra putri terbaik di seluruh tanah air yang ingin menjadi advokat atau pengacara. Ada pun ke-30 kota yang menggelar ujian pada Senin (23/5), terdiri dari 8 lokasi di Sumatera, 10 lokasi di Jawa, 4 lokasi di Kalimantan, 8 lokasi di Sulawesi, Nusa Tenggara Barat (NTB), Labuan Bajo-Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Papua.
Untuk jumlah peserta terbanyak, yaitu di Jakarta dengan sekitar 1.700 orang. Peradi menggelar ujian di 30 tempat atau kota, karena di daerah tersebut telah diselenggarakan Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA).
"Ternyata kepercayan masyarkat terhadap Peradi yang diketuai Fauzie ini tetap tinggi, peminatnya masih di atas yang kami perkirakan," kata Ketua Panita Ujian Profesi Advokat (PUPA) Peradi 2016, Hermansyah Dulaim. (rvk/asp)











































