"Kejahatan uang palsu sudah dalam tahap mengkhawatirkan," kata Kepala Divisi Penanggulangan Uang Palsu BI, Hasiholan siahaan.
Hasiholan menyampaikan ini saat jumpa pers pengungkapan peredaran uang palsu di Bareskrim Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (23/5/2016). Direktur Tipideksus Brigjen Agung Setya hadir dalam kesempatan itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena jumlah besar, pendeteksian uang palsu susah dilakukan. Lebih baik melalui transfer atau cek," ujarnya.
Ditambahkannya, data statistik menunjukan bahwa terjadi peningkatan peredaran uang palsu. Di tahun 2014, ditemukan 120.417 lembar uang palsu. Rasio, dalam satu juta lembar uang yang beredar di masyarakat diduga terdapat sembilan lembar uang palsu.
"Di 2015, ada 319.641 lembar atau ditemukan 21 lembar uang palsu di satu juta lembar. Hingga Maret tahun ini, 55.441 lembar uang palsu, itu sudah empat lembar dalam satu juta lembar," katanya.
Tahun 2015, Hasiholan menjelaskan peredaran uang palsu tertinggi ada di Jawa Timur lalu disusul Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten dan Bali.
"Kami sudah mapping (petakan) soal peredaran uang palsu. Uang asli kan ada 9 digit nomer seri, diawali dengan angka dari depan dan belakang dengan tiga huruf dan enam angka dibelakangnya," paparnya.
"Kalau pembuat uang palsu, tidak mungkin membuat uang seri dengan nomor yang berbeda, karena costnya yang mahal. Kalau asli nomor serinya selalu berbeda sehingga dari analisa kami, uang palsu nomor serinya selalu sama," sambungnya. (idh/aan)










































