Ini Penjelasan Polisi Soal Kasus Guru Pukul Murid di Bantaeng

Idham Kholid - detikNews
Minggu, 22 Mei 2016 06:22 WIB
Foto: Ilustrasi oleh Edi Wahyono
Jakarta - Media sosial ramai kisah guru di Bantaeng, Sulawesi Selatan, yang ditahan karena menghukum murid dengan cubitan. Bagaimana sebenarnya kasus itu?

"Jadi tidak hanya mencubit, tapi ada kegiatan yang mengarah kepada kekerasan," kata Kapolres Bantaeng AKBP Kurniawan Affandi saat dihubungi detikcom, Sabtu (21/5/2016).

"Yang dicubit itu kan lebam kiri kanan, kemudian dipukul pipi kanan kirinya, kemudian dipukul dadanya," sambungnya.

Dijelaskannya, kasus itu terjadi di SMP I Bantaeng sekitar 14 agustus 2015 lalu. Tepatnya di sebelah musolla areal gedung sekolah. Kasus ini dilaporkan ke polisi sehari setelahnya.

"Waktu itu ada si korban inisial T sama V (rekannya) lagi main, lalu ada Ibu guru mau salat dhuha, akhirnya terganggu karena ribut, anak dua ini ribut," ujarnya.

Akhirnya, Ibu guru membawa anak itu ke ruanga BK. Namun berdasarkan pemeriksaan kepolisian, T mendapat kekerasan fisik.

"Orangtua T (Ipda Irwan) awalnya tidak tahu, tahunya pasca kejadian itu si anak ini tidak sekolah sehari, ngakunya demam. Ternyata dibesuk temannya, dari temannya ini tahu ada kejaian itu. Akhirnya lapor (polisi)," ujarnya.

Kurniawan menejelaskan, pihaknya tidak langusung melakukan proses hukum usai menerima laporan itu. Tapi mencoba memediasi untuk islah dengan mempertemukan orangtua korban dengan Ibu guru.

Namun mediasi itu buntu dan tidak menemukan titik temu. Sebab, ada kata-kata dari Ibu guru yang menuru orangtua korban menyinggung dan menyakiti hati, sehingga orangtua korban tidak mau melanjutkan mediasi.

Karena upaya mediasi yang dilakukan hingga keempat kali tetap tidak bisa mendamaikan, polisi akhirnya memproses hukum laporan itu dengab dugaan melanggar pasal 80 ayat 1 UU nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak.

"Kita tak pernah menahan ibu guru. Sampai P21 tahap dua kita limpahkan ke kejaksaan, selebihnya itu kewenangannya kejaksaan," tutupnya. (idh/dha)