Cerita Anggota DPR Soal Guru Ditahan karena kasus Pukul Murid yang Ramai di Medsos

Ahmad Toriq - detikNews
Sabtu, 21 Mei 2016 16:57 WIB
Foto: Ilustrasi oleh Edi Wahyono
Jakarta - Media sosial sempat diramaikan kisah guru di Bantaeng, Sulawesi Selatan, yang ditahan karena menghukum murid. Anggota DPR Akbar Faizal turun tangan membantu guru tersebut.

Akbar mengatakan, Bantaeng sebenarnya bukanlah daerah pemilihan (dapil) tempat dia terpilih. Namun dia menerima banyak aduan dari masyarakat, sehingga terketuk untuk membantu.

Politikus NasDem ini menuturkan, di Bantaeng, ada dua kasus guru yang ditahan badan karena menghukum muridnya. Pertama, kasus Nurmayani Salam. Di media sosial, Nurmayani ramai disebut sebagai guru SD, dan ditahan karena menjewer muridnya. Akbar meluruskan informasi itu. Nurmayani adalah guru SMP yang ditahan karena memukul T, muridnya yang merupakan anak seorang perwira polisi.

"Saya mencari tahu dengan menelepon Kapolres Bantaeng AKBP Kurniawan, Akpol angkatan '96 yang sebelumnya bertugas di Provinsi Sulbar. Dari Kapolres saya mendapatkan kisah lengkapnya," kata Akbar saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (21/5/2016).

Akbar Faizal (Lamhot Aritonang/detikcom)

Akbar menuturkan, peristiwa antara Guru Maya (Nurmayani -red), terjadi sekitar 10 bulan lalu saat T masih duduk di bangku kelas 2 SMPN 1 Bantaeng. Ayah T saat ini bertugas di Polres Selayar sebagai Kanit Intel. Kisahnya, T menolak ke sekolah pada suatu pagi atas alasan sakit. Belakangan, teman T bercerita ke orang tua T bahwa temannya itu sakit karena dipukul Guru Maya.

Orang tua T tak terima. Lalu melapor ke Polres Bantaeng. Hingga berbulan-bulan, kata Akbar, Polres Bantaeng berusaha tak memproses kasusnya, dan mengupayakan damai kedua belah pihak.

"Awalnya, orang tua T mau berdamai. Namun dalam proses negosiasi damai itu keluar beberapa kalimat dari Guru Maya yang membuat orang tua T naik pitam. Pintu islah tertutup rapat kembali, khususnya dari Ibunda T," tutur Akbar.

Polres Bantaeng akhirnya meneruskan kasus itu. Bukti-bukti, seperti visum dan keterangan saksi, sudah lengkap. Kasus itu pun dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Bantaeng. Nah, di Kejaksaan inilah Guru Maya ditahan.

"Kapolres AKBP Kurniawan sekaligus membantah pemberitaan media termasuk di medsos bahwa Guru Maya ditahan di Polres, yang benar adalah di Kejari Bantaeng," ujar Akbar.

Kejari Bantaeng bergerak cepat dan melimpahkan kasusnya ke pengadilan. Akbar lalu berupaya melobi ayah T, Ipda Irwan, yang akhirnya sepakat berdamai dengan dua syarat. Syarat pertama Guru Maya mengakui perbuatannya. Kedua, Guru Maya harus minta maaf di media sosial. Ipda Irwan yakin ada pemukulan, karena memegang hasil visum yang menunjukkan ada pemukulan di bagian dada.

Akbar lalu menghubungi suami Guru Maya, Pak Haji Darmawan, untuk menyampaikan soal dua syarat dari Ipda Irwan. Darmawan bersedia minta maaf, tapi tak mau istrinya mengakui perbuatan memukul T di dada, karena merasa tak pernah melakukannya.

Akbar lalu menyampaikan ke Ipda Irwan, bahwa keluarga Guru Maya bersedia minta maaf, tapi tak mau mengakui pemukulan. Ipda Irwan keberatan. Ipda Irwan beralasan, jika Guru Maya tak mengakui perbuatannya, maka isu di media sosial, bahwa dia memenjarakan seorang guru karena mencubit anaknya, jadi seolah-olah benar.

"Hingga sekarang saya masih berkomunikasi dengan Kapolres dan Kajari Bantaeng untuk update. Saya meminta mereka terus mengupayakan damai. Sayangnya sampai kini belum bisa terlaksana," ujar mantan politikus Hanura ini.

(tor/ndr)