Berkenalan dengan Bripka Seladi, Polisi Sederhana yang Lepas Dinas Memulung Sampah

Berkenalan dengan Bripka Seladi, Polisi Sederhana yang Lepas Dinas Memulung Sampah

M Aminudin, - detikNews
Jumat, 20 Mei 2016 16:36 WIB
Berkenalan dengan Bripka Seladi, Polisi Sederhana yang Lepas Dinas Memulung Sampah
Foto: M Aminudin/detikcom (Bripa Seladi sehari-hari memakai sepeda)
Malang - Sudah bertahun-tahun lamanya Brigadir Kepala (Bripka) Seladi memilih untuk memulung sampah plastik selepas dinas kerja sebagai anggota Satuan Lalu Lintas (Polantas) Polres Malang Kota. Sebuah rumah tidak terawat milik temannya di Jalan Dr. Wahidin, Kota Malang, dipinjamkan kepada Seladi sebagai tempat penampungan sampah.

Tempatnya pun hanya berjarak sekitar 100 meter dari Satuan Penyelenggara Administrasi (Satpas) Surat Izin Mengemudi (SIM) Polres Malang Kota, tempat sehari-harinya Seladi berdinas. Tumpukkan sampah berjubel di rumah itu, kantong-kantong plastik besar tertata rapi sebagai tempat sampah plastik yang harus dipilah oleh Seladi.
Bripka Seladi mengayuh sepeda yang dipakai untuk kerja

Kesan jijik dan risih seperti tidak tampak pada Seladi ketika dirinya dengan sabar memilah satu per satu sampah dipungut di seputaran Stasiun Besar Malang itu. Ini sangat bertolak belakang dengan status yang melekat pada dirinya yakni anggota Satlantas banyak dipandang masyarakat memiliki sisi kehidupan yang cukup dan mewah.

Rutinitas itu biasa dilakukan bersama beberapa rekannya. Terkadang putranya turut datang membantu Seladi yang kini sudah berusia 57 tahun, untuk mengumpulkan sampah plastik sebagai tambahan penghasilan keluarga. Seladi mengaku, sudah memulung sampah sejak 2006 silam, namun untuk menempati 'gudang' sampahnya baru sekitar tahun 2008.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini punya teman yang dipinjamkan. Entah sampai kapan. Yang jelas saya ingin punya tempat sendiri," ucapnya ditemui detikcom di lokasi, Jumat (20/5/2016).

Ketika belum memiliki tempat atau gudang itu, Seladi tidak begitu bisa banyak mengumpulkan sampah untuk dipilah. Jadi hanya sebatas kemampuannya untuk segera dijual kepada pengepul. "Dulu hanya dapat Rp 25-30 ribu. Sekarang bisa sampai Rp 75 ribu," kata pria sejak 1977 menjadi polisi ini.

Semua pasti ada awalnya, begitu juga dengan Seladi ketika pertama kali memunggut sampah. Itu terjadi di saat dirinya berdinas di Mapolres Malang Kota, banyak melihat sampah plastik dibiarkan dan berakhir di tempat sampah. Seladi melirik itu merupakan peluang sebagai tambahan penghasilan. Mulailah dia mengumpulkan dan menjualnya kepada pengepul.

Ternyata itu menjadi kebiasaan, ketika dirinya berpindah tugas di Kantor Samsat Polres Malang Kota. Sampah-sampah plastik dan kertas yang dibuang dimanfaatkan oleh Seladi. "Kalau lepas dinas nyari di sekitar stasiun kereta, kemudian saya bawa pulang saya pilah mana yang bisa laku dijual," ujarnya santai.

Bagi dia, ini bukan merupakan pekerjaan hina. Karena sampah-sampah itu jelas bisa memberikan tambahan penghasilan dan tentunya halal. "Saya berpikir ini banyak manfaatnya, ketika kita mau dengan tulus dan ikhlas, karena ini halal," sambung bapak tiga anak ini.
Bripka Seladi memilah-milah sampah

Kini, selepas bertugas, Seladi langsung menuju tempat penampungan sampah yang jaraknya begitu dekat. Baju sebagai ganti telah disiapkan, sehingga Seladi tidak hilir mudik harus kembali pulang ke rumahnya di kawasan Gadang Gang 6 RT4/RW6, Kecamatan Sukun, Kota Malang.

Seladi bercita-cita ingin mengajak orang lain yang berminat memilah sampah seperti dirinya. Karena dirinya sudah tidak lagi harus satu per satu memunggut sampah dari tempatnya. Karena sudah ada beberapa pihak yang mendatangkan sampah untuk dipilah oleh Seladi.

"Saya ingin ajak orang-orang yang belum mendapatkan pekerjaan. Silakan pilah sendiri, hasilnya juga silakan dibawa. Karena di sini tidak dikumpulkan jadi satu, tetapi hasil dari masing-masing orang," harapnya. (dra/dra)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads