Mesin bor bawah tanah kedua proyek MRT Jakarta ini menembus Stasiun Istora pada Sabtu (14/5). Bor Antareja II ini telah menyusul mesin bor bawah tanah pertama (Antareja) yang telah lebih dulu menembus Stasiun Istora pada April 2016.
Dikutip dari siaran tertulis PT MRT Jakarta, Rabu (18/5/2016), semenjak dioperasikan pada November 2015 dari titik awal Patung Pemuda Senayan hingga hari ini, bor Antareja II telah berhasil membuat terowongan jalur bawah tanah dengan total panjang 924 meter. Area transisi Patung Pemuda sampai dengan Stasiun Senayan sepanjang 324 meter dan Stasiun Senayan sampai dengan Stasiun Istora sepanjang 600 meter.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekadar informasi, Antareja I mulai beroperasi sejak September 2015. Sedangkan mesin bor Antareja II dioperasikan sejak November 2015. Bor Antareja I per tanggal 17 Mei 2016 telah berhasi membuat terowongan jalur MRT bawah tanah sampai dengan Stasiun Istora dengan total panjang 934,5 meter. Terhitung dari Patung Pemuda sampai dengan Stasiun Senayan sepanjang 327 meter, kemudian dari Stasiun Senayan sampai dengan Stasiun Istora 607,5 meter.
Ada 4 mesin bor bawah tanah yang digunakan dalam paket pekerjaan konstruksi bawah tanah proyek MRT Jakarta sepanjang Senayan sampai dengan Bundaran HI. Dua mesin bawah tanah telah dioperasikan dari titik awal Patung Pemuda hingga nantinya berakhir di titik Setiabudi.
Saat ini tengah pihak MRT tengah mempersiapkan pengoperasian mesin bor Antareja I yang diperkirakan pada awal Juni 2016 dari Stasiun Istora hingga Stasiun Bendungan Hilir, tepatnya depan gedung Intiland Tower. Antareja I dan Antareja II dioperasikan kontraktor paket pekerjaan CP 104 dan CP 105 (Senayan-Setiabudi), yakni SOWJ Joint Venture yang terdiri dari Shimizu-Obayashi-Wijaya Karya-Jaya Konstruksi.
Dua mesin bor bawah tanah lainnya, yakni Mustikabumi I dan Mustikabumi II juga telah dioperasikan. Adapun bor Mustikabumi I telah dioperasikan mulai dari titik Bundaran HI sejak Februari 2016 dan per tanggal 17 Mei 2016 sudah mencapai pengerjaan sepanjang 493,5 meter. Sedangkan Mustikabumi II telah beroperasi dari titik yang sama sejak April 2016 dan telah mencapai pengerjaan sepanjang 60 meter. Kedua mesin bor ini bergerak melakukan penggalian membuat terowongan jalur bawah tanah MRT menuju arah Selatan hingga menembus Stasiun Dukuh Atas serta akan dilanjutkan hingga berakhir di titik Setiabudi. Kedua bor ini dioperasikan oleh kontraktor paket pekerjaan CP 106 (Dukuh Atas-Bundaran HI), yaitu SMCC-HK Joint Operation yang terdiri dari Sumitomo Mitsui Construction Company-Hutama Karya.
Keempat mesin bor tersebut diproduksi oleh perusahaan Jepang bernama JTSC (Japan Tunnel Systems Corporation) menggunakan teknologi Earth Pressure Balance (EPB) pertama di Indonesia. Diperkirakan masa pengerjaan konstruksi jalur terowongan bawah tanah MRT dengan menggunakan mesin Tunnel Boring Machine (TBM) ini akan berlangsung mulai September 2015 hingga Desember 2016.
Penyelesaian proyek MRT Jakarta koridor Selatan-Utara Fase 1 (Lebak Bulus - Bundaran HI) secara keseluruhan telah mencapai sekitar 42%. Total panjang jalur MRT Stasun Lebak Bulus-Stasiun Bundaran HI 15,7 km. Proyek kereta yang dimulai pembangunannya pada 10 Oktober 2013 ini ditargetkan bisa beroperasi pada pertengahan 2018.
PT MRT Jakarta sebagai pengelola dan operator MRT, akan melanjutkan pengembangan MRT fase II untuk rute Bundaran HI menuju Kampung Bandan di Jakarta Utara. Rute MRT fase II membentang sepanjang 8,1 km. Proses konstruksi rute Bundaran HI-Kampung Bandan akan dimulai sebelum selesainya proyek MRT fase I.
Rute fase I MRT melalui Stasiun Lebak Bulus-Fatmawati-Cipete Raya-Haji Nawi-Blok A-Blok M-Sisingamangaraja-Bundaran Senayan-Istora-Benhil-Setiabudi-Dukuh Atas-Bundaran HI. Sementara itu rute pembangunan fase II MRT akan melalui Stasiun Bundaran HI-Kebon Sirih-Monas-Harmoni-Glodok-Kota-Kampung Bandan. (aws/nrl)










































