Padahal rival sejatinya, Ade Komarudin, punya kesempatan untuk menantang Novanto di putaran kedua. Sebab, kedua caketum Golkar ini memperoleh lebih sari 30 persen suara.
Namun demikian, Akom memutuskan untuk mundur dari gelanggang. Entah ada kesepakatan apa, namun Akom memutuskan untuk legowo mengalah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akom menyatakan akan memberi dukungan penuh bagi kepengurusan Novanto yang terpilih memimpin Golkar pada periode 2014-2019.
"Saya dan rekan-rekan saya akan memberikan support kepada Pak Novanto dan nantinya kepada pengurusnya untuk kebesaran Partai Golkar. Saya dan istri saya mengucapkan selamat kepada Pak Novanto untuk kebesaran Partai Golkar," imbuh Akom.
Setelah menyatakan mengalah itu Akom langsung cipika cipiki dengan Novanto. Seolah keduanya tak pernah berseteru, padahal rivalitas keduanya sangat tajam menjelang Munaslub.
Tapi beginilah akhir antiklimaks perlawanan Ade Komarudin ke Novanto di Munaslub Golkar. Kalimat apresiasi Novanto akhirnya benar-benar memendam bara persaingan keduanya.
"Bangga kepada sosok Ade Komarudin selaku Ketua DPR untuk memberikan apa yang mestinya menjadi dua putaran tapi dengan penuh rasa rela dan kebesaran hatinya memberikan ini satu putaran. Luar biasa," ujar Setya Novanto usai memenangi suara di lokasi acara, Bali Nusa Dua Convention Center, Bali, Selasa (17/5/2016).
Berikut hasil akhir voting pemilihan caketum Golkar:
Ade Komarudin: 173 suara
Setya Novanto: 277 suara
Erlangga Hartarto: 14 suara
Mahyudin: 2 suara
Priyo Budi Santoso: 1 suara
Aziz Syamsuddin: 48 suara
Indra Bambang Utoyo: 1 suara
Syahrul Yasin Limpo: 27 suara
Tidak sah: 11 suara. (van/aan)











































