Soal sikap politik JK dan Luhut menjelang pemilihan caketum Golkar sudah sangat jelas terlihat. Keduanya tak lagi sungkan untuk saling bersahut-sahutan.
Nyatanya pada saat Luhut yang dikenal dekat dengan Setya Novanto menyebut Presiden kurang nyaman dengan caketum yang rangkap jabatan, JK langsung membantah. JK yang dikabarkan berada di belakang Ketua DPR Ade Komarudin di arena Munaslub Golkar langsung meluruskan Presiden tak pernah bicara begitu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sudah jelas sekali posisi JK dan Luhut berhadap-hadapan. Sebenarnya ada dua tokoh lain yang juga dalam posisi yang sama yakni Ketua Wantim Golkar Akbar Tandjung dan Ketum Golkar Aburizal Bakrie. Akbar Tandjung mengirim sinyal tak mendukung Novanto melalui pernyataan publik paham integritas Novanto, sembari berharap komite etik cermat.
Baca Juga: Akbar: Publik Tahu Integritas Novanto, Saya Harap Komite Etik Cermat
Saat Akbar Tandjung memberi sinyal tak mendukung Novanto, sinyal semakin gamblang memberi sinyal dukungan kepada mantan Ketua DPR RI itu. Saat 7 caketum Golkar menolak pemilihan caketum Golkar terbuka, Ical justru menghalalkan cara lain dari mekanisme pemilihan caketum Golkar terbuka, yakni dengan penyebutan nama Novanto dalam pandangan umum daerah.
"Kalau (di forum) pandangan umum boleh saja sebut nama. Tidak ada yang melarang dalam pandangan umum," ungkap Ical di arena Munaslub Golkar di BNDCC, Bali, Senin (16/5/2016).
Namun demikian Ical memang tak blak-blakan dirinya bakal merestui Novanto. Ical juga menggelar pertemuan dengan sejumlah caketum seperti Priyo Budi Santoso dan menginstruksikan mantan Wakil Ketua DPR itu untuk terus maju ke pemilihan ketum Golkar.
Sudah jelas arena Munaslub Golkar selain jadi pertarungan para caketum juga bakal jadi adu kekuatan keempat figur penting di Golkar itu yakni Ical, Akbar Tandjung, JK, dan Luhut Pandjaitan. Lalu siapa yang lebih berpengaruh, dan 'jagoan' siapa yang bakal menang? (dnu/aws)











































