Panasnya 'Rivalitas' JK-Luhut Jelang Pemilihan Ketum Golkar

Panasnya 'Rivalitas' JK-Luhut Jelang Pemilihan Ketum Golkar

Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Senin, 16 Mei 2016 19:27 WIB
Panasnya Rivalitas JK-Luhut Jelang Pemilihan Ketum Golkar
Luhut Pandjaitan/Foto: Agung Pambudhy
Badung - Sudah rahasia umum dua orang senior Partai Golkar yakni Jusuf Kalla dan Luhut Pandjaitan punya jagoan berbeda di Munaslub Golkar. Wapres dan Menko Polhukam itu tengah 'berjuang' untuk caketum yang berbeda.

Manuver JK dan Luhut awalnya barulah rumor yang sulit terberitakan. Sampai kemudian di pembukaan Munaslub Golkar hari Sabtu kemarin Presiden Jokowi berpidato tentang manuver kedua pembantunya tersebut.

"Saya ingin blak-blakan, karena banyak yang bertanya kepada saya, banyak yang komplain kepada saya, 'Pak Presiden, kenapa Menko Polhukam menelepon dan mengumpulkan DPD-DPD II'. Saya jawab, 'Pak Luhut itu kan dulu di Dewan Pertimbangan Golkar', kan nggak apa-apa," kata Jokowi di arena Munaslub Golkar, Bali Nusa Dua Convention Center, Badung, Bali, Sabtu (14/5/2016) kemarin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pernyataan Jokowi disambut tepuk tangan dan tawa ribuan peserta munaslub Golkar. Jokowi lalu melanjutkan sambutannya. Dia masih bercerita soal pertanyaan yang ditujukan kepadanya, kali ini soal Wapres JK.

"Ada lagi yang bertanya kepada saya, komplain kepada saya, kenapa Pak Wapres mengumpulkan dan menelepon DPD-DPD Golkar. Jawaban saya sama, Pak JK kan dulu Ketum DPP Golkar, kan juga nggak apa-apa," ujar Jokowi. Tawa dan tepuk tangan kembali pecah.

Pernyataan Jokowi yang dibumbui canda tawa itu sebenarnya semacam klarifikasi bahwa dirinya tak mempersoalkan JK dan Luhut Pandjaitan bergerilya jelang Munaslub Golkar. Benar saja setelah itu Luhut yang sempat memberi sinyal suka dengan Caketum Golkar Setya Novanto langsung mengajukan izin untuk fokus memantau Munaslub Golkar.

Luhut langsung menggelar pertemuan dengan sejumlah caketum Golkar seperti Setya Novanto, Priyo Budi Santoso, dan Indra Bambang Utoyo. Kepada ketiganya, Luhut menyampaikan keinginannya agar Munaslub Golkar tidak berakhir aklamasi dan berlangsung demokratis. Namun Luhut juga menyertakan 'suplemen' pesan bahwa Presiden kurang nyaman dengan caketum yang rangkap jabatan.

"Nggak mungkin lah saya jalan sendiri. Buat presiden, siapa saja nggak masalah. Hanya beliau tidak nyaman kalau rangkap jabatan. Kalau beliau di kabinet juga nggak mau ada rangkap jabatan walaupun dia bukan member kabinet," jawab Luhut usai pertemuan di The Mulia Hotel, Nusa Dua, Bali, Minggu (15/5) kemarin.

Luhut memang tak tegas menyebut siapa caketum yang rangkap jabatan, namun kubu caketum Golkar Ade komarudin merasa tersinggung asal pernyataan Luhut itu. Ade Komarudin adalah Ketua DPR saat ini.

Dan gara-gara pancingan ini rivalitas Luhu dan JK kembali terlihat jelas. Kali ini sungguh terasa panas, apalagi bertepatan menjelang pemilihan ketum Golkar malam nanti.

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) yang selama ini diisukan memberi dukungan ke Akom secara tegas membantah pernyataan Menkopolhukam Luhut Pandjaitan soal perintah Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar ketua umum Golkar tidak rangkap jabatan. JK menyebut tidak ada masalah soal rangkap jabatan sebagai ketum parpol.

"Saya tidak pernah mendengar dari beliau, dan saya yakini itu tidak," ujar JK di kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Senin (16/5/2016).

JK mencontohkan posisi Zulkifli Hasan yang saat ini duduk sebagai ketua MPR dan juga sebagai ketua umum Partai Amanat Nasional (PAN). Bahkan hampir sebagian besar kepala-kepala daerah di Indonesia adalah ketua parpol daerahnya masing-masing.

"Jadi soal merangkap di politik itu biasa-biasa saja. Justru mereka bangga kalau ketua partai itu punya posisi yang baik," ucapnya.

"Dan tidak ada soal. Zulkifli ketua MPR diterima di mana-mana dan tidak pernah ada masalah. Saya pikir itu Presiden pasti tidak pernah menyampaikan itu," imbuhnya.

Pernyataan JK ini adalah sebuah jawaban keras atas 'serangan' Luhut Pandjaitan yang disebut-sebut tengah bermanuver untuk memotong jalan Ade Komarudin menuju Golkar I.

Lalu apa ujung rivalitas JK dan Luhut di Munaslub Golkar? (van/fdn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads