Jelang Pemilihan Ketum Golkar 'Harga Pasaran' Naik Sampai Miliaran Rupiah

Munaslub Golkar 2016

Jelang Pemilihan Ketum Golkar 'Harga Pasaran' Naik Sampai Miliaran Rupiah

Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Senin, 16 Mei 2016 12:17 WIB
Jelang Pemilihan Ketum Golkar Harga Pasaran Naik Sampai Miliaran Rupiah
Foto: Pembukaan Munaslub Golkar di Bali (Danu Damarjati/detikcom)
Badung - Munaslub Golkar selalu erat dengan money politics. Menjelang pemilihan Ketum Golkar, beredar isu santer 'harga pasaran' sudah naik sampai miliaran rupiah satu suara,  ngeri!

"Pagi ini Munas Golkar bertaburan uang miliaran. Setiap Ketua DPD I yang menyebut nama caketum tertentu dan minta voting uang terbuka Rp 5 miliar," kata salah seorang pengurus DPP Golkar, kepada wartawan di arena Munaslub Golkar di BNDCC, Bali, Senin (16/5/2016).

Hal tersebut tampaknya bukan rumor belaka. Para pemilik suara juga menerima SMS tawaran miliaran rupiah bagi Ketua DPD yang menyebut nama caketum Golkar tertentu di Pandangan Umum Munaslub. Bisa jadi manuver para Ketua DPD menyatakan dukungannya di forum pandangan umum terkait SMS tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setidaknya sudah ada 4 Ketua DPD yang menyatakan dukungannya untuk Setya Novanto. Yakni dari Jambi, Kepulauan Riau, NTB, dan Banten. Meski membantah menerima uang, Ketua DPD I Jambi yang menyebut nama Novanto di atas podium mengaku mendapat SMS tawaran uang jika menyebut nama calon tertentu. Yakni sebesar Rp 3 miliar.

"Tidak ada (menerima guyuran uang). Malah ada SMS dari nomor nggak dikenal akan dapat uang kalau nyebutin nama calon," ujar Zoerman kepada detikcom di arena munaslub Golkar, BNDCC, Bali, Senin (16/5/2016).

SMS tersebut datang dari nomor 081294411813 yang tak dikenal oleh para pengurus DPP Golkar. Bunyi SMS tersebut sebagai berikut:

"Penting! Beredar informasi dari arena munas, ketua DPD I yang sebut nama calon tertentu dlm pandangan umum malam ini akan menerima Rp 3 M."

Soal 'harga' satu suara di Munaslub Golkar memang sudah jadi isu panas sejak Munaslub dibuka Jumat lalu. Konon katanya ada caketum yang mematok Rp 1 M, namun karena situasi semakin rumit harga pun terus naik. Lalu berapa 'harga pasaran' terakhirnya? Sampai kapan Golkar akan terjebak dalam isu permainan uang? (van/tor)


Berita Terkait