"Besok saya izin sehari mau join Golkar. Kan saya orang Golkar, boleh dong," ujar Luhut di The Mulia Hotel, Nusa Dua, Bali, Minggu (15/5/2016).
Selain untuk memantau jalannya Munaslub Golkar, Luhut mengaku extend di Bali sekaligus untuk beristirahat. Apalagi ini hari libur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lobi supaya jangan ribut karena kasihan. Golkar ini (jangan) ribut lagi, intinya saya nggak mau terulang aklamasi-aklmasi yang dipaksain dan direkayasa. Ya biar aja demokrasi. Apapun hasilnya nanti, jangan dipaksain aklamasi. Nggak usah," tuturnya.
Seperti diketahui, dalam Munaslub Golkar sempat diributkan masalah pemilihan ketua umum dengan polemik apakah dilangsungkan secara tertutup melalui voting, atau terbuka dengan pandangan-pandangan DPD. Jika secara terbuka, dikhawatirkan akan terjadi aklamasi yang sudah direkaya melalui money politics.
"Saya berjaga-jaga. Saya lihat masih demokrasi. Ada maju dan mundur. Itu sah-sah saja. Semua pegangan kita koridor AD/ART. Belajar dari pengalaman, akhirnya kemarin ada nakal-nakal. Jadilah perpecahan. Jangan lah itu, kan costnya mahal banget," ujar Luhut.
Sementara itu, mengenai kesepakatan 7 caketum yang bergabung untuk seolah melawan caketum Setya Novanto terkait proses pemilihan ketua umum, Luhut tak mau banyak komentar. Ia hanya berpesan agar pelaksanaan pemilihan ketum dilakukan secara demokraris.
"Itu biarin saja. Silakan saja, yang penting kan gimana akhirnya. Pertanyaannya AD/ART membolehkan nggak? Jangan dipaksain. Kemudian floor membolehkan nggak? Kalau floor bilang terbuka ya terbuka, kalau floor bilang tertutup ya tertutup," Luhut berkomentar.
"Nggak masalah. Asal jangan dipaksain. Kalau di AD/ART boleh dan difloor memutuskan begitu ya kan demokratis," tutupnya.
(ear/miq)











































