Desa dan Keluarga Berperan Besar untuk Suksesnya Revolusi Mental

Bisma Alief, - detikNews
Minggu, 15 Mei 2016 14:59 WIB
Foto: Bisma Alief
Jakarta - Dalam membangun karakter bangsa, hal yang paling awal harus dilakukan adalah pembangunan karakter dari individu-individu. Untuk membangun karakter individu yang bermoral harus dibangun dari tingkat desa dan keluarga. Karena manusia yang bermoral dapat dilihat dari 2 hal yaitu kompetensi dan karakter. Dan keluarga adalah salah satu faktor untuk menbuat individu yang memiliki kompetensi dan karaker.

Hal itu disampaikan Kepala BKKBN, Surya Candra Surapaty dalam seminar nasional 'Dengan Revolusi Mental Kita Wujudkan Indonesia Emas 2020'. Surya mengatakan, revolusi mental dari keluarga, harus menjalankan 8 fungsi, yaitu fungsi keagamaan, cinta kasih, sosial budaya, pendidikan seks, reproduksi, ekonomi, perlindungan dan lingkungan. Bila semua dilakukan dengan benar akan menjadikan manusia yang berkarakter dan berkualitas.

"Dalam Nawacita ada 2 hal yang diambil oleh BKKBN, yaitu meningkat kualitas individu dan memperkuat pedesaan. Untuk memperkuat desa, tiap Kabupaten akan ada 1 kampung KB, ini salah satu cara untuk menjadikan Desa Emas dalam merevolusi mental penduduk di pedesaan," kata Surya dalam acara yang digelar di Granada Ballroom, Menara 165, Jakarta Selatan, Minggu (15/5/2016).

Pendiri ESQ Ary Ginanjar Agustian yang menjadi tuan rumah dalam acara ini mengatakan, gerakan membangun karakter bangsa yang saat ini disebut gerakan revolusi mental oleh Presiden Jokowi memiliki kesamaan dengan misi ESQ untuk memperbaiki moral dan membangun karakter bangsa Indonesia. Oleh karena itu, ESQ berupaya mendukung program Presiden Jokowi yang sejak awal pemerintahannya terus menggaungkan revolusi mental. Ary memiliki konsep yang diberi nama Indonesia Emas yang memiliki visi 'Indonesia Berkarakter 7 Budi Utama'.

"7 karakter yang harus dimiliki bangsa Indonesia adalah jujur, tanggung jawab, visioner, disiplin, kerja sama, adil dan peduli. 7 karakter tersebut akan terus diperjuangkan menjadi nilai dalam kepribadian bangsa, karena selama ini bangsa seperti kehilangan nilai-nilai tersebut," kata Ary.

Pengamat politik LIPI, Siti Zuhro yang juga hadir dalam acara tersebut juga mengingatkan pentingnya merubah tujuan bernegara dalam revolusi mental. Pola pikir adalah hal utama yang harus disasar dalam program tersebut. Walaupun menurutnya revolusi mental yang saat dibuat oleh Presiden Jokowi belum terlihat hasilnya.

"Semua tekad harus bulat, agar negeri ini tidak menjadi bulan-bulanan negara lain. Untuk menuju Indonesia Emas harus ada persiapan menuju ke sana. Harusnya pemerintah dan partai politik turun gunung untuk mendorong proses demokrasi dan revolusi mental yang diusung Pak Presiden," ujar Siti dilokasi yang sama.

Acara seminar nasional "Dengan Revolusi Mental Kita Wujudkan Indonesia Emas 2020" sendiri merupakan rangkaian acara dari milad ke-16 ESQ yang digelar di Menara 165, Jakarta Selatan.

(fjp/fjp)