"Saya kira tidak perlu ada kekhawatiran seperti itu (ada aklamasi di putaran pertama)," ungkap Ketua Penyelenggara Munaslub Golkar Theo Sambuaga di lokasi Munaslub Golkar, BNDCC, Nusa Dua, Bali, Sabtu (14/5/2016).
Theo kembali memaparkan, pemilihan ketum Golkar pada Munaslub pertama akan dilakukan pemilihan dari 8 caketum yang ada. Itu untuk menentukan proses selanjutnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya akan ada 560 peserta dari DPD I dan DPD II yang berhak memilih caketum. Jika ada satu caketum yang mendapat perolehan 30 persen suara, maka ia akan menang.
"Kalau ada yang memperoleh 30 persen lebih dari satu di-running pada pemilihan berikutnya (putaran kedua)," ucapnya.
Namun jika tidak ada satu pun caketum yang mendapat perolehan 30 persen suara, maka putaran kedua tetap dilakukan. Pesertanya adalah caketum yang mendapat suara terbesar urutan pertama, kedua, dan ketiga.
"Kalau tidak ada yang 30 persen dipilih lagi urutan satu, dua, tiga," kata Theo.
Sebelumnya Airlangga Hartarto menolak pemilihan Ketum Golkar dilakukan secara aklamasi. Musyawarah untuk mufakat disebutnya baru bisa dilakukan usai pemilihan putaran pertama.
"Sehingga tidak ada skenario aklamasi. Aklamasi dikatakan dalam AD/ART itu (bisa terjadi) apabila caketum mendapat suara 50 plus 1 di arena munas setelah voting," tutur Airlangga, Sabtu (14/5).
Di arena munaslub, mulai beredar kabar ada skenario pengkondisian untuk mengejar Golkar 1. Yakni saat DPD-DPD yang berwenang memberi suara menyampaikan pandangan umum, mereka akan menyebut nama atau menyatakan dukungannya kepada Caketum Setya Novanto.
"Jangan ada pemenangan dalam pandangan umum. Pandangan umum dijadikan forum aklamasi itu sama saja dengan mengulangi jilid lalu (Munas Bali yang memenangkan Ical secara aklamasi). Maka tatib jangan dibolak balik," tutup Airlangga. (elz/bag)











































