Munaslub Jadi Pertaruhan Masa Depan Golkar

Munaslub Jadi Pertaruhan Masa Depan Golkar

Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Sabtu, 14 Mei 2016 14:06 WIB
Munaslub Jadi Pertaruhan Masa Depan Golkar
ilustrasi. Foto: Grafis oleh Mindra Purnomo
Jakarta - Munaslub Golkar di Bali menjadi pertaruhan nasib partai. Bisa dibilang Munaslub kali ini adalah pertaruhan hidup-mati partai beringin ke depan.

Munaslub Golkar adalah upaya untuk menyatukan kembali Golkar yang terbelah konflik hampir dua tahun: kubu ARB (Aburizal Bakrie) vs AL (Agung Laksono). Melalui SK Kemenkumham yang "memenangkan" ARB, Munaslub kali ini digelar.  Apakah Golkar akan kembali bersatu padu, jaya dan meraih simpati publik?

"Semuanya, tentunya, tergantung pada "nalar visioner dan strategis" elite partai dan para peserta Munaslub," kata Andar Nubowo,
Direktur Eksekutif IndoStrategi, kepada wartawan, Sabtu (15/5/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Andar memaparkan, ada tantangan serius yang perlu disadari oleh segenap peserta Munaslub dan keluarga besar partai beringin, yakni  ancaman deadlock bahkan perpecahan kembali. Rekonsiliasi dan perpecahan kembali Golkar seolah hanya terpisah benang tipis.

"Ancaman deadlock bisa saja terjadi  akibat persaingan Ade Komarudin yang didukung JK dan keluarga Cendana dan Setya Novanto yang didukung Luhut Pandjaitan dan Aburizal Bakrie. Kita tahu, JK dan LBP ini tidak cocok sejak awal di pemerintahan. Sekarang, keduanya menciptakan Proxy war di Golkar melalui Akom vs SN. Ini sebuah pertaruhan martabat dan kuasa ekonomi politik; masa depan PG dan juga Pemerintah Jokowi," papar Andar.

"Tidak seyogyanya Pemerintah atau Presiden terlibat dukung mendukung kandidat ketum parpol. Ini menyalahi fatsoen demokrasi. Pemerintah tidak mengulang kekeliruan masa silam ketika terjadi relasi patron-klien antara penguasa-partai politik. Sebab, dalam relasi klientelisme itu yang terjadi adalah politik transaksional yang tidak sehat dan menyehatkan. Apalagi jika dukung mendukung pemerintah itu memicu friksi dan skisma politik," kata Andar.

Penyelamat dan Pemersatu

Jika proxy war itu menyebabkan deadlock, elite dan peserta Munaslub perlu mencari calon alternatif yang bisa menjadi "icebreaker" sekaligus "solidarity maker". Di tengan persaingan Akom vs SN, Andar memandang, ada dua figur caketum yang tampaknya bisa  menyelamatkan perpecahan Golkar.

"Dua orang itu yakni  Priyo Budi Santoso dan Airlangga Hartarto. Keduanya adalah kader muda dan berprestasi. Track record leadership-nya jelas. Namun, jika ditimang-timang lebih lama, peluang PBS lebih besar daripada Airlangga, jika dikembalikan pada persoalan leadership dan kompetensi. PBS lebih unggul. Kunci kemenangan PBS adalah ARB. Ia tampaknya lebih condong ke PBS daripada ke Airlangga yang didukung oleh Akbar Tanjung. Kita mencatat, ARB dan AT sering berselisih pandangan dan kebijakan dalam memimpin PG," ujar Andar menganalisa.

"Secara idealis, jika boleh sebut nama, peluang PBS cukup besar. Dari debat kandidat, tampaknya, PBS lah yang punya visi dan strategi. Dia juga punya pengalaman, kompetensi, jaringan politik dan leverage yang tinggi. Dia juga cukup punya integritas di mata publik, muda, dan punya komunikasi politik yang oke. Sayangnya, Munaslub ini kadang ada faktor-faktor lain yang menentukan: misalnya kekuatan finansial dan PBS tampaknya tidak menggunakan kekuatan itu sebagai daya tariknya, tetapi pada kualitas, integritas dan kompetensi," imbuh Andar.

Namun, semuanya tergantung elite dan peserta Munaslub dalam menggunakan nalar dan mata batin untuk menentukan nasib dan takdir politik Golkar di masa yang akan datang. Inilah momentum paling penting bagi upaya menjadikan Golkar sebagai partai berkualitas yang disegani lawan maupun kawan.

Generasi Y dan Demokrasi

Partai Golkar adalah, kini, dianggap partai lama yang paling lambat regenerasi jika dibandingkan PPP dan PDIP. Sekarang, PPP dipimpin oleh kader muda. Meski pucuk pimpinan tetap dipegang Megawati Soekarnoputri, di level kedua,  PDIP diisi oleh politisi muda dan progresif. Politisi muda itu mempunyai peran luar biasa. Regenerasinya bersifat liquid, cair dan sehat.

"Politik gerontokrasi mulai luruh. Pola dan strategi lama perlu diubah dengan yang baru. Zeitgeist (anak jaman) sekarang adalah sistem dan produk politik yang perlu menyesuaikan dengan generasi Y yang kreatif, inovatif, well educated dan pro progresifitas. Karena itu, Partai Golkar perlu dipimpin oleh kaum muda yang mengerti bahasa jaman yang gandrung pada politik sehat dan meritokratik bukan politik transaksional. Partai Golkar  perlu menggaet anak anak muda atau generasi Y ini yang, lagi-lagi, pandangan dan preferensi politiknya tidak jadul. Visi dan strategi pemimpinan muda inilah yang perlu dijadikan dasar untuk memilih Ketua Umum Partai Golkar 2016-2021. Partai Golkar adalah pilar penting demokrasi di Indonesia. Golkar sehat dan kuat, demokrasi akan semakin mantap," pungkasnya. (van/bag)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads