Menhan: Perairan Antar Negara ASEAN Seperti di Somalia

Menhan: Perairan Antar Negara ASEAN Seperti di Somalia

Ahmad Masaul Khoiri - detikNews
Sabtu, 14 Mei 2016 02:18 WIB
Menhan: Perairan Antar Negara ASEAN Seperti di Somalia
Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Menhan Ryamizard Ryacudu menyebut perairan di utara Kalimantan merupakan daerah yang rawan. Bahkan Ryamizard menganggap keadaannya sama seperti di Somalia yang kerap terjadi pembajakan terhadap kapal asing.

"Sejak awal saya sampaikan Selat Malaka, laut yang meghubungkan antar negara, seperti Indonesia-Malyasia-Brunei Darussalam-Filipina itu yang terjadi seperti di Somalia. Tempat pembajakan," ujar Ryamizard kepada wartawan di Balai Media, Jalan Merdeka Barat, Jakarta, Jumat (13/5/2016).

Salah satu pencegahannya, kata Menhan dapat dilakukan dengan cara patroli bersama di Selat Malaka dengan di sekitar laut antar negara itu. Kemudian komunikasi antar pemerintah.

"Kita sudah bertemu satu tahun sampai 2-3 kali. Saya sampaikan ke menteri pertahanan, hasilnya disampaikan ke tentara masing-masing," terangnya.

Ryamizard menjelaskan, mekanisme pengamanan di perairan antar negara ASEAN terhadap pembajakan kapal dapat dilakukan dengan patroli bersama. Siapa yang jadi tuan rumah di perairannya, maka ia adalah komandan. Sedangkan, jika menjadi tamu maka ia adalah wakilnya.

"Saya dulu waktu perwira pertama, menengah, itu sudah melakukan patroli bersama di Kalimantan. Kalau kita masuk di Serawak, Malaysia jadi Komandannya saya jadi wakil. Kalau dia operasi balik kesini ya kita jadi komandannya. Dia menjadi wakilnya. Ini juga begitu. Kalau udah lewat ke daerah misal Filipina ya dia jadi komandannya, gitu lho. Itu otomatis," urai Ryamizard.

Dijelaskan dia saat berpatroli, pasukan antar negara akan memakai alutsista, pakai kapal kalau patroli di laut. Kalau di udara akan memakai kapal terbang.

"Kalau masuk negara itu harus izin, kalau mereka bilang nanti gak usah kita diajak. Kita hormati lah. Seperti sekarang kita hormati kan lepas juga," kata Jenderal (purn) TNI ini.

"Jadi komunikasi antar negara ASEAN ini yang sudah 48 tahun sangat baik kita teruskan. Jadi jangan sampai persahabatan ini menjadi rusak gara-gara kita tidak mentaati hukum negara lain," pungkasnya. (aws/aws)


Berita Terkait