"Komunikasi di antara calon sudah berjalan. Tinggal titiknya di mana. Sebagian sepakat titiknya akan bicara di sesudah voting putaran pertama. Baru kita bicara koalisi," ungkap Airlangga usai Debat Caketum di Bali Nusa Dua Convention Center, Jumat (13/5/2016) malam.
Sesuai AD ART, 8 bakal calon ketum akan dipilih oleh 557 pemilik suara munaslub Golkar untuk menjadi calon ketum. Bakal calon yang mendapatkan 30% suara, atau 167 suara, disahkan menjadi calon ketum.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Skenario kedua, jika ada seorang calon yang mendapatkan suara 50% lebih, tapi masih ada bakal calon lain yang mendapatkan 30% suara, maka dua calon itu disahkan sebagai calon ketum, lalu digelar pemilihan ketum.
Kemudian skenario ketiga, jika tak ada satupun bakal calon ketum yang mendapatkan 30% suara, maka peraih suara terbanyak urutan satu sampai urutan ketiga, ditetapkan menjadi calon ketum. Lalu, ketiga calon ketum itu mengikuti pemilihan lagi.
Airlangga tampaknya sadar peta kekuatan ada pada satu atau dua caketum. Ia pun mengaku sudah membuat kesepakatan dengan beberapa caketum lainnya, yakni Syahrul Yasin Limpo (SYL), Azis Syamsudin dan Mahyudin.
"Kesepakatan tidak tertulis. Walaupun saya punya kesepakatan tertulis dengan SYL, Azis Syamsudin, dan Mahyudin. Kesepakatan untuk bersama-sama, tidak ada yang kita lawan. Kesepakatan untuk saling mendukung pada saat ada calon yang sudah terpilih," tutur Airlangga.
Keempat caketum ini sepakat akan memberikan dukungannya untuk salah satu calon. Sayangnya Airlangga belum mau menyebut siapa calon kuat yang akan mereka dukung jika kalah dalam putaran pertama.
Hanya saja keempat caketum ini punya syarat untuk siapa yang akan mereka dukung. Pertama adalah yang mampu mengembalikan kepercayaan publik terhadap Golkar.
"Terutama Golkar zero accident. Tidak ada yang membebani partai. Kalau ingin bangkit seluruhnya. Tidak tercela itu bagian dari zero accident," ucap Airlangga.
Setiap caketum disebutnya memiliki catatan masing-masing. Tentunya termasuk persyaratan sesuai AD/ART yakni tentang PDLT (Prestasi, Dedikasi, Loyal, dan Tak Tercela).
"Catatan ini baru terbuka saat voting putaran pertama. Sehingga, sebetulnya titik konsolidasi dan kerjasama caketum apabila voting terjadi. Jadi sejatinya voting tertutup sehingga proses demokrasi berjalan," kata dia.
Antar caketum pun disebut Airlangga sudah melakukan komunikasi. Namun peta dukungan menurutnya baru akan terlihat ketika voting putaran pertama selesai.
"Setelah itu saya kira baru ada koalisi-koalisi karena sebagian ada kesamaan visi dan misi. Sekarang komunikasi cair dan kesepakatan seluruh caketum kerjasama mengembalikan konsolidasi Golkar. Mengenai siapa yang memimpin nanti tinggal berbagi peran saja," beber Airlangga.
Namun yang jelas saat ini ia fokus pada kemenangannya di Munaslub nanti. Airlangga juga menjanjikan akan berlaku adil jika terpilih sebagai Ketum Golkar.
"Saat ini (fokus) untuk jadi Ketum. Kalau jadi Ketum saya akan rangkul semua," ujarnya.
Soal PDLT sendiri tampaknya cukup signifikan bagi syarat koalisi Airlangga cs nantinya. PDLT menjadi poin yang sejak beberapa waktu lalu disebut-sebut oleh timses Akom. Apakah artinya Akom yang akan dipilih Airlangga dan 3 caketum lainnya jika berkoalisi nanti?
"Bisa juga terbalik. Tapi ada kemungkinan," tutup Airlangga.
(elz/jor)











































