Priyo: Kalau Tak Siap Hadapi Keterbukaan, Indonesia Jadi Tempat Sampah

Debat Caketum Golkar

Priyo: Kalau Tak Siap Hadapi Keterbukaan, Indonesia Jadi Tempat Sampah

Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Jumat, 13 Mei 2016 20:47 WIB
Priyo: Kalau Tak Siap Hadapi Keterbukaan, Indonesia Jadi Tempat Sampah
Foto: Danu Damarjati
Badung - Debat caketum Golkar malam ini mengambil tema strategi pemenangan Partai Golkar dalam mewujudkan negara kesejahteraan. Caketum Priyo Budi Santoso menekankan pentingnya pembangunan SDM dalam rangka menghadapi keterbukaan seperti Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

"Keterbukaan adalah keniscayaan, tidak bisa kita hindari meskipun kita ndremimil seribu malam. Mau nggak mau, siap nggak siap, kita harus mempersiapkan republik dan rakyat kita menghadapi semua ini. Kalau tidak Indonesia akan jadi tempat sampah serapah. Padahal negeri kita seperti surga, energinya lumayan, gadisnya menawan cantik rupawan," kata Priyo dalam sesi debat dalam sesi pemaparan visi misi di Singaraja Hall Tanjung Benoa Hall di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Nusa Dua, Bali, Jumat (13/5/2016).

Hal tersebut disampaikan Priyo menjawab pertanyaan panelis yakni Ichsanudin Noorsy. Priyo lantas memaparkan untuk menghadapi keterbukaan itu pemerintah harus mempercepat semua lini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mempersiapkan rakyat kita, Sumber Daya Manusia merupakan kunci dari semua kunci. Kalau pendidikan kita sudah 20 persen (anggaran pendidikan), atas perintah konstitusi, tidak ada cara lain semua lini harus dipercepat," kata mantan Wakil Ketua DPR ini.

Lantas bagaimana cara Priyo meningkatkan human capital index jika terpilih jadi ketum Golkar?

"Andaikata ada orang setengah dewa yang bisa kita tunjuk untuk menyihir itu semua akan kita lakukan itu. Kita memerlukan menteri pendidikan nasional yang orang setengah dewa, orang yang brilian yagn bisa mengubah itu, sehingga ada hope dan harapan," jawab Priyo.

Namun rupanya Ichsanudin Noorsy kurang puas dengan jawaban Priyo. Waketum Golkar itu pun lantas melontarkan candaan. "Mas Ichsan kita 17 tahun bersahabat, jangan sulit-sulit ngasih pertanyaan. Tapi saya harus jawab karena saya adalah calon nahkoda partai Golkar," canda Priyo.

"Bagaimana pendidikan formal, informal harus kita lakukan. Duit kita itu banyak dari sekian ratus triliun rupiah mestinya bisa melakukan semua itu. Pendidikan formal boleh terus gali lubang tutup lubang mencari formula terbaik, tapi  pendidikan formal dan non formal harus digaungkan secara seimbang. Pesantren dan kejuruan selama ini terpinggirkan, seolah kejuran kelas dua, padahal itu sama pentingnya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia kita," pungkasnya. (van/tor)


Berita Terkait