Janji Caketum Golkar: Airlangga Fokus Peningkatan Gizi, Mahyudin ke Pendidikan

Debat Caketum Golkar

Janji Caketum Golkar: Airlangga Fokus Peningkatan Gizi, Mahyudin ke Pendidikan

Elza Astari Retaduari - detikNews
Jumat, 13 Mei 2016 19:55 WIB
Janji Caketum Golkar: Airlangga Fokus Peningkatan Gizi, Mahyudin ke Pendidikan
Debat Munaslub Golkar di Bali (Foto: Danu Damarjati/detikcom)
Jakarta - DelapanΒ  calon ketua umum Partai Golongan Karya malam ini menjalani sesi debat di Singaraja Hall Tanjung Benoa Hall di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC). Secara berutan masing-masingΒ  calon itu menyampaikan visi dan misinya.

Calon nomor urut 3 Airlangga Hartarto menyinggung soal pembangunan manusia Indonesia tahun 2045. Menurut dia pembangunan manusia 2045 harus disiapkan sejak mulai saat ini.

Untuk itu, kata Airlangga, sejak saat ini anak-anak harus diberi asupan gizi yang baik. Begitu juga dengan ibu-ibu hamil.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Anak-anak Indonesia harus diberi asupan gizi yang cukup. Kita juga perhatikan ibu-ibu hamil agar generasi yang dilahirkan mampu berkompetisi di dunia global," kata Airlangga dalam sesi pemaparan visi misi di Singaraja Hall Tanjung Benoa Hall di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Nusa Dua, Bali, Jumat (13/5/2016).

Adapun caketum dengan nomor urut 4 Mahyudin mengatakan konsep negara kesejahteraan 2045 itu adalah membawa Indonesia menjadi negara maju.

Indonesia, kata Mahyudin saat ini terjebak dalam posisi negara dengan posisi middle income. Padahal semestinya Indonesia harus segera melompat ke negara dengan posisi high income.

Menurut Mahyudin, Indonesia harus melompat menjadi negara dengan level high income dengan cara beralih ke teknologi.

"Mulai sekarang Indonesia tak lagi boleh mengekspor bahan-bahan mentah tapi harus barang jadi yang punya nilai jual tinggi," kata Mahyudin di tempat yang sama.

Dia mencontohkan, dulu banyak industri tekstil yang mampu menyerap tenaga kerja. Namun yang diserap adalah tenaga kerja murah. Akibatnya begitu ada ketentuan agar upah dinaikkan, perusahaan tak bisa meneruskan kelangsungan hidupnya.

Hal ini jelas tak baik bagi perekonomian Indonesia yang selama ini hanya mengandalkan pada peningkatan pertumbuhan ekonomi saja. Mahyudin pun mengusulkan agar pendidikan dasar menjadi 12 tahun bukan 9 tahun agar semua lulusannya bisa diserap oleh perusahaan.

"Saya setuju dengan bapak Presiden Joko Widodo (Jokowi) bahwa perguruan tinggi ditempatkan di Kementerian Riset. Perguruan Tinggi harus mencetak lulusan yang berorientasi pada riset," kata Mahyudin.

(dnu/erd)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads