Pertemuan dengan orangtua siswa yang terkena "musibah" tersebut diikuti oleh Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti R (Ita), Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Bunyamin, anggota DPR RI Komisi X Noor Achmad, dan Kepala SMAN 3 Semarang Bambang Nianto. Pertemuan dimulai sekitar pukul 11.30 WIB.
"Dari hasil pembahasan, kami ada langkah yang pertama membentuk tim dan disampaikan ke Menristek Dikti," kata Ita di ruang Multi Media SMAN 3 Semarang, Kamis (12/5/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi pengisian (data) sudah betul ikuti aturan. Ini kan belum bisa diidentifikasi. Kami akan lakukan tim perumus untuk duduk bersama. SMA 3 bilang betul, SNMPTN juga bilang sana betul," terang Ita.
"Habis ini dirumuskan (timnya)," imbuhnya.
Sementara itu anggota DPR RI, Noor Achmad menjelaskan pihaknya akan mengawal tim tersebut. Ia menyayangkan kalau sampai anak-anak berprestasi di SMAN 3 Semarang dan siswa lainnya jadi korban "musibah".
"Tadi sudah terbentuk tim, saya tangkap tugasnya investigasi untuk cari salahnya di mana, SOP, atau pihak sekolah atau sistem. Akan kita cari semata-mata untuk perbaikan sekarang atau ke depan. Kedua, jangan sampai yang punya potensi dikorbankan," tegas Noor.
Salah satu orang tua merasa selama ini hanya pihak sekolah yang disalahkan dan dengan pertemuan tersebut mereka ingin kejelasan lebih dengan mengusulkan membentuk tim.
"Selama ini orang tua suuzon sekolah yang salah. Setelah pertemuan ini ada yang sebagian puas. Sudah ada jawaban tapi belum puas. Semoga hasil timnya bisa selesai secepatnya," kata orang tua yang enggan disebutkan namanya.
Saat ini rapat di ruang Multi Media sudah selesai, namun perwakilan orang tua dan guru SMAN 3 Semarang beserta Dinas Pendidikan Kota Semarang melanjutkan rapat pembentukan tim di ruang terpisah. (alg/try)










































