"Kasihan anak-anak sekolah yang punya ekspektasi tingggi itu, orang tuanya juga stres juga. Tapi saya tidak bisa menyalahkan anak-anak. Ini jelas murni kesalahan pada sekolah," kata Menristek Dikti M Nasir saat ditanya tentang kasus di SMAN 3 Semarang.
Hal itu disampaikan Nasir di sela-sela Konferensi Informasi Pengawasan (Korinwas) BAPETEN dengan topik "Membangun Sinergi Sistem Keamanan Nuklir Nasional untuk Menghadapi Aksi Kriminal dan Terorisme yang Melibatkan Zat Radioaktif dan Bahan Nuklir" di Hotel Bidakara, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (12/5/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu sekolah pemerintah daerah, kami nggak bisa melakukan itu. Kami hanya mengimbau anak-anak jangan putus asa. Anak-anak, kalau bisa kalian bisa memanfaatkan peluang Seleksi Bersama Masuk PTN (SBMPTN) dan Ujian Mandiri. Oleh karena itu anak-anak jangan putus asa, jangan patah arang, tapi masih ada kesempatsn silakan mendaftar. Bagi (siswa) yang nggak mampu ada lagi Bidikmisi (beasiswa pendidikan untuk siswa tak mampu)," imbuh Nasir.
Nasir menjelaskan memang ada kesalahan input dalam sistem PDSS online SMAN 3 Semarang yang menggunakan sistem Satuan Kredit Semester (SKS). Namun, imbuhnya, 49 dari 50 SMA yang menggunakan SKS tidak bermasalah.
"Kebetulan SMA 3 sudah menggunakan sistem SKS. SMA yang sudah menggunakan sistem SKS itu ada 50 sekolah. Yang 43 itu dari SMA negeri yang 7 dari swasta. Dari 49 itu nggak ada masalah. Ada sekolah yang diterima di atas 50 persen. Sementara SMA 3 yang termasuk SMA terbaik di Jawa Tengah sama sekali tidak ada di terima, nol," jelas Nasir.
"Kesalahannya adalah penginputannya. Mata pelajaran yang dimasukkan tapi nggak ada nilai. Sistem inilah yang tidak masuk karena akibatnya nggak bisa diproses karena tidak lengkap. Tindak lanjutnya masih ada kesempatan berikutnya SBMPTN akhir Mei ini. Makanya silakan anak-anak bagaimana mendaftar supaya bisa masuk PTN," kata Nasir. (nwk/nrl)











































