Tinggal di Antara Reruntuhan Puing, Begini Kondisi Warga Kampung Akuarium

Tinggal di Antara Reruntuhan Puing, Begini Kondisi Warga Kampung Akuarium

Ahmad Masaul Khoiri - detikNews
Rabu, 11 Mei 2016 13:03 WIB
Tinggal di Antara Reruntuhan Puing, Begini Kondisi Warga Kampung Akuarium
Kondisi warga Kampung Akuarium Pasar Ikan Luar Batang. (Foto: Ahmad Masaul Khoiri/detikcom)
Jakarta - Ratusan warga Kampung Akuarium Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara, menolak direlokasi ke Rumah Susun Rawa Bebek dan Rusun Marunda. Mereka memilih bertahan, tinggal di tujuh tenda darurat yang disebut merupakan bantuan dari Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Seperti apa keadaan mereka?

Rabu siang (11/5/2016), suhu udara di Kampung Akuarium cukup terik. Panas matahari begitu menyengat. Mintarja (43) -- salah seorang warga yang direlokasi -- duduk di antara reruntuhan puing-puing bangunan di sudut salah satu tenda darurat. Di sampingnya ada kompor gas dan sebuah ember untuk mandi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Mintarja (43), warga Kampung Akuarium. (Foto: Ahmad Masaul/detikcom)


Di tenda berukuran separuh lapangan bulu tangkis itulah kini Mintarja memilih tinggal bersama enam keluarga lainnya. Dia meninggalkan unit di Rumah Susun Rawa Bebek, Jakarta Timur, jatah dari Pemerintah Provinsi DKI  

Alasannya kondisi rusun tak sesuai dengan harapan warga. Seperti lokasi kerja yang jauh dan sulitnya membuka usaha baru. Mintaharja hidup dari laut.

"Saya tinggalin (Rusun Rawa Bebek). Lah mau bagaimana, nyatanya sampai sana tidak sesuai. Kerja jauh, tidak sesuai keinginan, kita usaha juga tidak ada pelanggan," kata Mintarja saat berbincang dengan detikcom di Kampung Akuarium.


Kondisi warga Kampung Akuarium Pasar Ikan Luar Batang.  (Foto: Ahmad Masaul Khoiri/detikcom)


Di belakang Mintarja, nampak tiga perempuan tidur dengan alas seadanya di atas reruntuhan puing-puing bangunan. Meski satu tenda ditempati enam sampai sembilan keluarga, namun tak ada sekat yang memisahkan mereka saat tidur.

Tak hanya tempat tidur yang seadanya, warga Kampung Akuarium itu juga tinggal dengan minimnya fasilitas mandi cuci kakus (MCK). Untuk tujuh tenda dengan kurang lebih 300 warga yang tinggal itu, fasilitas MCK tak sampai 10.

Selain tenda untuk tempat tinggal, ada satu bangunan semi permanen yang digunakan sebagai musala. Ratusan warga Kampung Akuarium itu kini  bertahan tinggal di tenda darurat. Sementara anak-anak bermain di antara reruntuhan puing-puing bangunan yang tentu saja jauh dari rasa nyaman.

Lalu sampai kapan mereka bertahan di Kampung Akuarium?

"Saya belum tahu, kami masih menunggu itikad baik dari pemerintah," kata Mintarja.

(erd/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads