Akom vs Novanto Diprediksi Bertarung Sengit di Munaslub Golkar

Akom vs Novanto Diprediksi Bertarung Sengit di Munaslub Golkar

Ahmad Toriq - detikNews
Rabu, 11 Mei 2016 10:55 WIB
Akom vs Novanto Diprediksi Bertarung Sengit di Munaslub Golkar
Foto: Foto: Grafis oleh Mindra Purnomo
Jakarta - Pemilihan ketum di Munaslub Golkar diprediksi berlangsung seru. Apalagi dua kekuatan yang dianggap dominan terus saling serang, yakni Setya Novanto melawan Ade Komarudin.

Menurut peneliti senior CSIS, J Kristiadi, pilihan Istana akan jadi faktor dominan terpilihnya seorang caketum Golkar. Meski sebenarnya pihak Istana sudah menegaskan Presiden Jokowi tak memilih kubu di Munaslub Golkar.

Kristiadi menilai ada dua kekuatan utama yang bisa meraih simpati Istana dan juga pemilik suara Munaslub Golkar, yaitu Setya Novanto dan Ade Komarudin (Akom).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kekuatan tentu tadi, satu adalah Setya Novanto, kedua Ade Komarudin," kata Kristiadi saat berbincang, Selasa (10/5/2016).

Menurut dia, Novanto kuat di internal Golkar. Mantan Ketua DPR itu diyakini bisa memikat pemilik suara karena merupakan orang kepercayaan Aburizal Bakrie (Ical), ketum Golkar saat ini. Ical dinilai masih punya pengaruh kuat di kader-kader daerah Golkar.

"Apakah kemudian ini juga akan menjamin menang, belum tentu juga. Karena Jokowi masih menimbang-nimbang kedua calon ini, siapa yang bisa lebih dipercaya dan lebih efektif di dalam menjadikan pemerintahan stabil. Artinya menggalang kekuatan di DPR dan sebagainya," ulas Kris.

Meski Novanto kuat di internal, Kristiadi melanjutkan, faktor pilihan Istana tetap jadi penentu. Isu Istana mendukung calon tertentu diprediksi bisa mengubah haluan pemilik suara. Novanto memiliki kelemahan di sisi ini, karena dia pernah ramai disebut mencatut Presiden Jokowi untuk meminta saham PT Freeport Indonesia.

"Urusan percaya tidak itu bukan mudah, karena Jokowi merasa Setya Novanto ini kok dulu sudah mengobrak-abrik soal Freeport. Sehingga dia sudah ketahuan kelakuannya. Tapi mungkin Ade Komarudin ini belum begitu ekspose kekurangannya di mata Jokowi," ujarnya.

Ade Komarudin (Akom) dinilai punya kelebihan dari segi citra di mata Jokowi. Namun, Ketua DPR itu disebut punya kelemahan yang bisa dieksploitisir oleh lawan, yaitu soal surat berjanji tak maju jadi caketum.

"Kok dia bisa-bisanya pernah menandatangani komitmen untuk tidak mencalonkan sebagai ketum Golkar kalau sudah ketua DPR. Kok bisa menyangkal seperti itu," ulas Kris.

Meski dengan 'kekurangan' tersebut, Akom dinilai masih punya kesempatan. Dia harus bisa merebut simpati DPD II Golkar. Sebab, DPD II dinilai tak sepenuhnya loyal ke Ical, beda dengan DPD I Golkar.

Kekuatan Novanto dan Akom, menurut Kris, relatif berimbang. Jika keduanya terus 'berperang' di ruang publik, dikhawatirkan Golkar bisa kembali pecah. Bisa jadi, pemilih Golkar mencari tokoh alternatif. (tor/van)


Berita Terkait