Mata Dadan menerawang mengingat detik-detik gerombolan pemuda menunggangi puluhan sepeda motor beraksi brutal. Asep Supriadi alias Mees (26), sahabat Dadan, tewas akibat peristiwa tersebut.
"Kepala terkena hantaman golok. Kalau telapak kaki kanan ini pakai kerban karena kena sabetan celurit," ucap Dadan sewaktu berbincang bersama detikcom di lokasi kejadian, Jalan Cibiru Tonggoh, Kampung Cibangkonol, RT 3 RW 6, Desa Cibiru Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Selasa (10/5/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami lagi nonton televisi. Wakti itu ada siaran langsung pertandingan sepak bola nasional. Awalnya enggak menyangka ada kelompok motor melakukan penyerangan," ucap Dadan.
Selagi menikmati sajian laga sepak bola sambil bersenda gurau, Dadan dan rekannya tersebut terkejut dengan kedatangan gerombolan sepeda motor dari arah atas atau daerah Batukuda. Dalam benaknya, Dadan menebak mereka bakal berulah.
"Mereka gerung-gerung sepeda motor. Jumlahnya 25 motor. Mereka saling berboncengan atau satu motor dua orang. Saya lihat ada yang membawa atribut kelompok berupa satu bendera," tutur Dadan.
Menurut Dadan, kelompok bermotor itu sempat melintasi pos ronda. Namun tiba-tiba mereka berhenti. Seingat dia, sekitar 10 pelaku yang berada di barisan paling belakang turun dari motor.
"Mereka langsung menyerang," ucap Dadan.
Serangan mendadak para pelaku tidak membuat nyali Dadan dan temannya menciut. "Terjadi kontak fisik. Kami melawan dan berkelahi dengan pelaku," ujarnya.
"Setahu saya, ada sepuluh pelaku bawa senjata tajam jenis samurai, golok, pisau dan celurit. Sebagian lagi membawa balok," tutur Dadan menambahkan.
Meski pertarungan tak seimbang, Dadan menyebut sepuluh pelaku sempat kewalahan. Berkali-kali Dadan menghindar dan menangkis senjata tajam pelaku yang mengarah ke kepalanya.
"Saya bertiga (dengan Asep dan Andra) terus melawan. Beberapa pelaku tersungkur. Kami hanya tangan kosong, mereka bersenjata," ucapnya.
Korban memukul mundur para pelaku. Namun, pelaku lainnya yang berada di barisan depan, melakukan serangan balik. Saat itu kondisi kelima warga Cileunyi tersebut sudah terluka. Asep paling parah lantaran luka tusuk.
Mereka berlanjut mengeroyok kelima korban. Dadan tak gentar. "Asep tergeletak di jalan. Saya berusaha melindungi Asep. Saya coba angkat tubuhnya, tapi pelaku terus memukul dan menendang," kata Dadan menjelaskan.
Pukulan balok bertubi-tubi menyasar tubuh Dadan dan Asep. Pelaku lainnya menusuk tubuh Asep yang tak berdaya di tengah jalan. Melihat kondisi tersebut, Dadan mengamuk. Amarahnya tak terbendung.
"Saya terus maju melawan. Saya mengambil batu, lalu melemparinya. Pelaku mau menyerang lagi, saya lempar batu. Setelah itu pelaku kabur," tutur Dadan.
Darah segar mengucur di kepala Dadan. Dia tidak peduli rasa sakit. Dadan berlari mendekati Asep yang sekarat. Bersama warga setempat, Dadan memboyong Asep menggunakan mobil ke RSUD Ujungberung Kota Bandung.
"Asep luka delapan tusukan. Dia meninggal di rumah sakit," ucapnya.
Kesedihan masih terpancar di wajah Dadan. Dia menyaksikan langsung aksi sadis para pelaku membantai Asep. Dadan tidak mengungkapkan soal pemicu dan motif insiden berdarah penyerangan geng motor.
"Saya pergi dulu kang. Maaf enggak bisa lama-lama," ucap Dadan sambil bergegas menduduki jok motor sepeda motor matic yang dikemudikan rekannya. (bbn/dra)











































