Ini Hasil Investigasi KNKT soal Penyebab KMP Rafelia II Tenggelam di Selat Bali

Aditya Mardiastuti - detikNews
Selasa, 10 Mei 2016 16:30 WIB
Rilis KNKT soal tenggelamnya KM Rafelia II di Bnayuwangi, Selasa, 10 Mei 2016 (Foto: Aditya Mardiastuti/detikcom)
Banyuwangi - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) merilis investigasi kecelakaan Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Rafelia II yang tenggelam di Selat Bali. Kapal itu tenggelam saat melakukan pelayaran dari Pelabuhan Gilimanuk, Bali menuju Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi, Jumat (4/3) lalu. Kesimpulannya kapal itu tenggelam karena kelebihan muatan.

"KNKT menemukan bahwa stabilitas kapal pada saat berangkat sudah tidak memenuhi kriteria stabilitas kapal yang baik. Saat kapal melebihi dari sarat maksimum yang diijinkan," ujar Kepala Sub Komite Investigasi Kecelakaan Pelayaran Aldrin Dalimunte saat jumpa pers di Ruang Rempeg Kantor Bupati Banyuwangi, Jl Ahmad Yani, Banyuwangi, Selasa (10/5/2016).

Aldrin menjelaskan berdasarkan pengamatan CCTV ASDP Ketapang pihaknya menemukan ada 16 truk berwarna orange mengangkut bahan sisa pembakaran batu bara dengan muatan rata-rata 40 ton. Bahan itu dibawa dari Celukan Bawang menuju pelabuhan Mojokerto.

"Kami membuat rekapitulasi 33 kendaraan, penumpang 62 orang total 765,26 ton berat muatan. Padahal berat yang bisa diangkut kapal Rafelia II 297 ton. Ada kelebihan muatan yang mencapai 595 ton saat kapal berlayar," paparnya.

Analisis dari informasi yang KNKT dapat dari simulasi stabilitas kapal mengalami trim haluan atau kapal berat di bagian depan. Tak hanya itu kapal buatan Jepang tahun 1993 itu telah mengalami modifikasi pintu rampa dari sepanjang 5 meter menjadi 13 meter. Oleh karenanya pintu rampa haluan selalu terbuka karena bila tertutup pintu rampa itu akan menghalangi pandangan anjungan.

"Terbukanya pintu rampa sejajar dengan permukaan air laut serta lepasnya pintu rampa dari engselnya membuat air laut sebanyak 50 ton masuk ke dalam geladak kendaraan dan mempercepat laju kemiringan kapal. Kemiringan kapal ini diikuti oleh bergeraknya muatan di geladak kendaraan dan makin memperburuk stabilitas. Selain itu, KNKT juga melihat bahwa kapal sejenis KMP. Rafelia II secara teknis tidak dapat dioperasikan di dermaga jenis LCM dikarenakan bentuk haluan yang memiliki bulbous dan struktur pintu rampa kapal," bebernya.

Foto: Aditya MN/detikcom

Dari hasil investigasi juga ditemukan adanya kekurangan pengawasan terhadap pola operasi kapal termasuk proses pemuatan dan penataan muatan oleh pihak operator maupun pengawas pelabuhan keberangkatan kapal. Tak hanya itu kondisi modifikasi yang dilakukan oleh Rafelia II belum mendapat izin trayek.

"Status Rafelia pada 6 November 2014 itu kondisi suspended ," jelasnya.

Akibat peristiwa nahas tersebut sebanyak 6 orang pelayar yang terdiri dari 2 orang awak kapal dan empat orang penumpang meninggal dunia. Tidak ada kendaraan maupun barang penumpang yang berhasil diselamatkan.

Sementara itu Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyarankan agar peristiwa ini menjadi pembelajaran bagi pihak lainnya. Dia berharap kejadian ini tidak terulang lagi dan masing-masing pihak mengutamakan keselamatan.

"Ini pertama kali dilakukan KNKT rilis di lokasi kejadian (Banyuwangi) biasanya di Jakarta. Kita berharap apa yang sudah dijelaskan oleh KNKT menjadi pembelajaran bagi siapapun termasuk Dinas Perhubungan dan Komunikasi Banyuwangi," kata Anas.

Hadir dalam jumpa pers ini Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Wakil Ketua KNKT Haryo Satmiko, Kasub Komite Investigasi Kecelakaan Pelayaran Aldrin Dalimunte, Kepala Kantor Basarnas Surabaya Muhammad Arifin, ASDP Ketapang-Gilimanuk dan OPP Gilimanuk serta UPP Ketapang dan Gilimanuk. (ams/try)