Jejak Bos Sentul City, Dari Halangi Penyidikan hingga Dapat Korting Hukuman

Andi Saputra - detikNews
Senin, 09 Mei 2016 16:57 WIB
Cahyadi Kumala di Pengadilan Tipikor Jakarta (dok.detikcom)
Jakarta - Mahkamah Agung (MA) mengkorting hukuman bos Sentul City, Kwee Cahyadi Kumala alias Swie Teng, dari 5 tahun penjara menjadi 2,5 tahun penjara. Butuh jalan panjang bagi KPK untuk menggelandang Swie Teng ke penjara.

Berikut perjalanan kasus Swie Teng sebagaimana dirangkum detikcom, Senin (9/5/2016):

Desember 2012
PT Bukit Jonggol Asri mengajukan permohonan rekomendasi tukar menukar kawasan hutan kepada Bupati Bogor Rahmat Yasin atas lahan seluas 2.754,85 hektar.

20 Agustus 2013
Rahmat Yasin menerbitkan surat rekomendasi tukar menukar kawasan hutan atas nama PT BJA.

13 Nopember 2013
Direktur Jenderal Planologi Kehutanan Kementerian Kehutanan Bambang Supijanto kembali menerbitkan surat yang isinya menegaskan bahwa lokasi kawasan hutan PT BJA tidak dimungkinkan lagi diterbitkan izin penggunaan kawasan hutan.

Januari 2014
Cahyadi Kumala, Hari Ganie (Direktur PT BJA), dan Robin Zulkarnain (anggota biro direksi Sentul City) Bupati Bogor Rahmat Yasin serta terdakwa Yohan Yap melakukan pertemuan di salah satu rumah yang ada di Cluster Hilltop Sentul City. Dalam pertemuan itu, Cahyadi meminta Rahmat Yasin untuk bisa menerbitkan izin.

30 Januari 2014
Cahyadi Kumala memanggil Yohan Yap ke rumahnya di kawasan Widya Chandra. Cahyadi memberikan cek senilai Rp 5 miliar kepada Yohan dengan tujuan untuk diberikan ke Rahmat Yasin.

2 Februari 2014
Yohan mengembalikan cek tersebut karena susah dicairkan.

6 Februari 2014
Yohan dan Heru Tanda Putra mendatangi rumah dinas Bupati Bogor dan bertemu dengan Rahmat Yasin. Yohan lantas menyerahkan uang Rp 1 miliar kepada Rahmat sembari berujar "Pak, ada titipan dari Om Swie." Rahmat pun mengangguk. Tujuannya agar izin pembebasan lahan keluar.

Maret 2014
Robin Zulkarnain memberitahukan kepada Yohan bahwa Rahmat Yasin membutuhkan uang Rp 2 miliar. Kemudian Yohan dan Heru menyerahkan uang Rp 2 miliar di rumah dinas Yasin. Uang diterima oleh sekretaris pribadi Yasin, Tenny Ramdhani. Oleh Tenny uang Rp 2 miliar disimpan di bawah meja kerja yang terletak di ruang keluarga rumah dinas Bupati Bogor.

Hal ini berulang hingga beberapa kali.

7 Mei 2014
Yohan Yap ditangkap KPK. Tidak berapa lama, Rahmat Yasin ikut diamankan. Cahyadi panik dan memerintahkan ke bawahannya untuk menghilangkan bukti terkait proyek tersebut.

24 September 2014
Yohan Yap dihukum 18 bulan penjara.

Di hari-hari menjelang putusan, Cahyadi bertemu dengan Ketua Muda MA bidang Pengawasan yang juga hakim agung Timur Manurung. Cahyadi membawa draf putusan Yohan, yang belakangan diketahui draf putusan itu benar adanya. Pertemuan itu diulangi beberapa kali.

2 November 2014
Rahmat Yasin dituntut 7,5 tahun penjara.

24 November 2014
Yohan Yap dihukum 4 tahun penjara oleh Pengadilan Tipikor Bandung. Menurut majelis, akibat terlalu gampangnya mengalihkan fungsi hutan menjadi lahan permukiman, perkotaan atau proyek-proyek bisnis lainnya, bisa merusak lingkungan dan ekosistem, menimbulkan banjir. Terutama berimbas sampai ibu kota Jakarta maupun kawasan sekitarnya.

27 November 2014
Rahmat Yasin dihukum 5,5 tahun penjara.

Maret 2015
Mahkamah Agung (MA) mencopot Timur Manurung sebagai Ketua Muda MA bidang Pengawasan. MA memutuskan pertemuan Timur dengan Cahyadi merupakan perlanggaran kode etik.

2 April 2015
Yohan Yap dihukum 5 tahun penjara. Hukuman ini sesuai ancaman maksimal dalam UU Tipikor dalam pasal penyuapan.

"(Uang) Berasal dari Kwee Cahyadi Kumala alias Swie Teng, Presdir PT Sentul City dan Komut PT Bukit Jonggol Asri," ucap majelis kasasi.

8 Juni 2015
Pengadilan Tipikor Jakarta menjatuhkan hukuman 5 tahun penjara kepada Cahyadi Kumala karena menghalang-halangi penyidikan yaitu menghilangkan barang bukti.

27 April 2016
Mahkamah Agung (MA) mengurangi hukuman Cahyadi menjadi 2,5 tahun penjara dalam putusan Peninjauan Kembali (PK). Duduk sebagai ketua majelis hakim agung Syarifuddin dengan anggota hakim agung Andi Samsan Nganro dan Syamsul Rakan Chaniago. (asp/nrl)