Namun ada gundah gulana yang sempat mengganggu Desi. Dia sempat dibuat kaget dengan permintaan uang sebesar US$ 8 ribu dolar dari seseorang yang mengaku-ngaku bekerja di Kementrian Luar Negeri.
"Saya ditelpon, katanya ibu mau jenazah dimakamkan di Amerika atau mau di bawa ke tanah air. Saya jawab mau dibawa pulang ke sini, terus dia nanya lagi ibu sudah siap belum uang US$ 8 ribu buat pengurusan jenazahnya. Saya langsung diam, saya jawab uang segitu darimana pak," tutur Desi, kepada detikcom seraya menerima sejumlah kerabat yang datang ke kediamannya sekira pukul 09.45 WIB, Sabtu (7/5/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kerja disana diajak sama kenalannya ada dua saudara juga yang bekerja sama-sama di restoran di Amerika, kalau masalah bagaimana dia berangkat setau saya dia punya paspor dan bikin visa nya di Jakarta. Kalau kirim uang sebulan sekali ya cukup buat anak sekolah," lanjut Desi.
Kembali ke soal permintaan dari seseorang yang mengaku-ngaku staf di Kemlu itu, Desi segera mengontak staf KBRI di Washington bernama Kalista yang biasa berkomunikasi dengan dia.
Ternyata setelah ditanyakan ke Kalista, sama sekali tidak pernah ada permintaan uang sebesar itu. Desi mengaku, oknum yang menelepon itu bisa saja mencatut nama pegawai Kemlu.
"Awalnya saya sering kontekan dengan Fitri Sumantri dan Asep Apik, saudara yang juga kerja di sana. Mungkin nomer saya diberikan ke staf KBRI yang kalau nggak salah namanya bu Kalista. Beliau ini yang rutin kasih informasi nenangin keluarga di sini saya salut. Karena hal itu, nggak ada tuh permintaan uang US$ 8000 seperti yang dikatakan orang yang mengaku kerja di Kemenlu, malah jadi beban ke keluarga kan kalau begitu" lanjutnya.
Desi mengaku berharap bantuan dan perhatian dari pemerintah untuk memulangkan jasad suaminya. Jika ada permintaan uang, Desi mengaku tak sanggup untuk memenuhinya.
"Kami lagi kena musibah, saya malah kerasa seperti dikasih beban kalau begitu," tandas ibu satu orang anak ini. (dra/dra)











































