Hal ini sempat mengemuka dalam diskusi bertajuk 'Akhirnya Golkar Bisa Gelar Munaslub' di Restoran Gado-gado Boplo, Jl Gereja Theresia, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (7/5/2016). Awalnya, Guru Besar Universitas Pertahanan Profesor Salim Said menyoroti urusan etnisitas yang sebetulnya tak perlu dipermasalahkan dalam kerangka Bhineka Tunggal Ika.
Salim menyarankan, bila Golkar ingin memunculkan calon presiden yang bisa jaya, maka Golkar harus menyiapkan sosok Jawa mulai dari sekarang. Dengan demikian, Golkar bisa berjaya di Pilpres mendatang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung menunjukkan fakta, bahwa Golkar sudah tiga kali dipimpin oleh orang dari luar Jawa. "Pertama saya sendiri, Jusuf Kalla, dan Aburizal Bakrie," kata Akbar.
Kemudian Akbar menilai saat inilah orang Jawa kembali memimpin Golkar, lewat gelaran Musyawarah Nasional Luar Biasa di Bali pada 15 Mei nanti. "Kalau sekarang orang Jawa (menjadi Ketum Golkar), saya kira sudah pantas juga," kata Akbar sambil tersenyum santai.
Sejauh ini sudah ada enam orang yang membayar Rp 1 M dan mendaftar menjadi caketum Golkar. Mereka adalah:
1. Priyo Budi Santoso (Kelahiran Trenggalek, Jawa Timur)
2. Aziz Syamsuddin (Lampung)
3. Ade Komarudin (Purwakarta, Jawa Barat)
4. Airlangga Hartarto (Surabaya, Jawa Timur)
5. Setya Novanto (Bandung, Jawa Barat)
6. Mahyudin (Tabalong, Kalimantan Selatan) (dnu/tor)











































