Menurut sosok yang akrab disapa Kang Yoto ini, buku cetakan manual masih tetap diperlukan. Hal ini diungkapkannya saat menjawab pertanyaan netizen dalam acaara Njungok Bareng Netizen dengan tema 'Dari Bojonegoro untuk Indonesia' di Pendopo Malowopati, Bojonegoro, Jawa Timur, Jumat (6/5/2016) malam.
"Sejak saya jadi bupati saya malah tidak pernah pakai laptop lagi. Saya menulis artikel, menulis paper, saya cuma pakai Blackberry," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Bupati Bojonegoro Suyoto di acara Njungok Bareng Netizen (Zaenal Effendi/detikcom) |
Selain itu, untuk mengumpulkan data sebagai bahan tulisan artikel dan buku yang dibuatnya, Kang Yoto mengaku sangat terbantu dengan kecanggihan smartphone.
"Saya searching, kumpulan data untuk melengkapi tulisan saya. Ini semua bisa tidak usah dikonfrontir ini soal kenyamanan antara digital dan buku, tergantung orangnya, mau enak mana," ungkap Kang Yoto.
Foto: Acara Njungok Bareng Netizen (Budi Sugiharto/detikcom) |
Namun bagi Kang Yoto, tulisan cetak masih diperlukannya sebelum mendisposisi meski proposal dikirim melalui email. "Saya kalau baca surat kadang-kadang tidak mantep kalau cuma pakai ini. Saya biasa mendisposisi email tapi itu pun saya masih tidak nyaman, kalau perlu saya printout. Ini anak anak jangan khawatir, mau buku atau digital silahkan. Ini soal kenyamanan," tegasnya.
Yang terpenting, lanjut dia bagi generasi muda adalah berkreativitas dengan kemampuan serta data yang dimiliki. "Bagi anak anak sekarang adalah lakukan sesuatu kreativitas dengan data yang kita miliki," pungkas Kang Yoto. (ze/hri)












































Foto: Bupati Bojonegoro Suyoto di acara Njungok Bareng Netizen (Zaenal Effendi/detikcom)
Foto: Acara Njungok Bareng Netizen (Budi Sugiharto/detikcom)