Hal ini seperti dilakukan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Washington DC. Acara bertajuk Business Workshop itu digelar Kamis (5/5/2016), bertempat di Wisma Duta Besar RI di Washington DC, AS.
Pelatihan itu diperuntukkan bagi warga Indonesia yang telah memiliki bisnis atau yang sedang akan merintis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
Selain pemberdayaan diaspora, kata Dubes yang akrab disapa Sonny itu, tujuan lain dari pelatihan itu adalah untuk mendukung upaya diplomasi kuliner Indonesia. Jika digarap maksimal, diplomasi kuliner bisa memiliki multiplier effect yang besar, antara lain mendorong ekspor Indonesia ke AS.
"Misalnya, jika di AS banyak pengusaha makanan Indonesia, mereka bisa impor bumbu-bumbu makanan dari Indonesia. Itu akan mendorong ekspor Indonesia ke AS," kata Sonny.
Menurutnya, diaspora Indonesia di AS memiliki banyak potensi di berbagai bidang, dan kuliner hanyalah salah satunya. Jika terkoneksi dengan baik, potensi tersebut bisa ditransformasi menjadi kekuatan riil diplomasi Indonesia.
Upaya itu telah dimulai dari beberapa waktu, antara lain dalam pameran Specialty Coffee Association of America (SCAA) Expo di Atlanta, Georgia, dan Wonderful Indonesia Festival di New Orleans, Louisiana. Dia berharap insiatif serupa dapat dilakukan di negara bagian lain di Amerika.
"Kita berharap inisiatif semacam ini bisa direplika di negara bagian yang lain," kata Sonny.
Workshop kali ini menghadirkan pemateri Alexandra Piotrowski dari Small Business Administration/SBA (sebuah lembaga pemerintah AS yang menangani usaha kecil), maestro kuliner Indonesia William Wongso, dan para pengusaha sate truck di Washington DC dan sekitarnya. Ada tiga aspek yang menjadi topik dalam pelatihan tersebut, yaitu proses perizinan (licensing), pembiayaan (financing), dan konten masakan.
![]() |
Alexandra berbagi pengetahuan mengenai proses perizinan dan pembiayaan usaha kecil di Washington DC. William Wongso bercerita mengenai pengalamannya di bidang kuliner sekaligus mendemonstrasikan cara memasak dan berbagi berbagai tips berbisnis kuliner.
Sementara para pengusaha sate truck berbagai pengalaman mereka membangun usaha di Amerika. Elzsa Palar-Purdy, salah satu peserta yang sedang ingin merintis usaha, mengaku terbantu dengan kegiatan tersebut. Menurutnya salah satu tantangan utama berbisnis di AS adalah prosedur ketat yang harus diikuti dalam perizinan.
"Buat saya yang sudah bertahun-tahun punya rencana bisnis tapi belum terlaksana, acara ini berguna banget. Saya jadi tahu ke mana kita harus approach jika ingin memulai bisnis, dan ada website dan nomor telepon yang bisa dihubungi. Kita juga bisa bertanya-tanya tanpa harus malu- malu," kata Elzsa. (Hbb/Hbb)












































