Di Ambon, Maluku, mahasiswa program studi Kehutanan di Universitas Pattimura ini membuat inisiatif untuk membangun dialog antar-komunitas di wilayah pasca-konflik. Dia bersama rekan-rekannya aktif menginisasi apa yang disebut Non-Violence Study Circle.
"Itu adalah sebuah gerakan yang tujuannya adalah memberdayakan anak-anak muda di kampus menjadi aktor intelektual untuk mempromosikan perdamaian dari kampus ke komunitas," kata Zulfirman dalam perbincangan dengan detikcom di Washington DC, AS, Senin (2/5/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan dukungan dari Inspiring Development (Indev) dan Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPKM) Universitas Pattimura, Zulfirman dan kawan-kawannya membangun jaringan dengan berbagai komunitas dan organisasi untuk mempromosikan dialog guna mendorong perdamaian. Sejak dimulai tahun 2011, tak kurang dari 1000 orang telah berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
"Saat ini sudah tujuh genarasi, dan sekarang kami sedang menyiapkan generasi ke-8," kata pemuda kelahiran 25 November 1993 ini.
Dia berharap inisiatif yang dia lakukan dapat menginsiparasi orang muda untuk melakukan aksi nyata guna mendorong perubahan sosial. Menurutnya, orang muda memiliki peran krusial sebagai pengarah perubahan.
"Indonesia membutuhkan kita semua, dan perubahan itu harus dimulai dari diri sendiri dan aksi nyata yang masyarakat inginkan. Bukan sekedar kita kritis, berkoar-koar ini salah itu salah, tapi tanpa aksi nyata. Transformasi hanya bisa terjadi apabila refleksi kritis kita diimplementasikan dalam aksi nyata," ujarnya.
Dia menambahkan, orang muda perlu memiliki semangat kerelawanan. Tanpa semangat itu, orang muda tidak akan bisa menjaga idealisme mereka.
"Cara satu-satunya merawat idealisme anak muda adalah dengan kerelawanan. Kita tidak bergantung pada siapa sebagai relawan untuk perubahan," tegas mahasiswa yang baru saja menyelesaikan studinya dengan predikat cum laude ini.
Selain itu, yang tak kalah penting adalah orang muda harus bisa berkolaborasi. Inisiatif yang dia kerjakan bersama kawan-kawannya hanya bisa terlaksana berkat kerja sama dan kolaborasi tim.
"Jadi semangatnya bukan kompetisi, tapi kolaborasi," tandasnya.
Selain inisiatif di bidang promosi perdamaian, Zulfirman juga terlibat dalam berbagai inisiatif lain, antara lain bidang lingkungan dengan mengangkat isu pencemaran teluk Ambon oleh sampah dan bidang seni budaya dengan menggagas festival musik kampus. Tujuannya masih sealur, yaitu membangun komunikasi dan dialog guna merajut jejaring sosial.
Penghargaan Emerging Young Leaders Award diberikan setiap tahun oleh Kemlu AS kepada orang muda berusia 16-24 tahun dari seantero dunia yang dinilai memberikan kontribusi bagi perubahan sosial. Tahun ini, penghargaan tersebut diberikan kepada 10 orang, dan Zulfirman satu-satunya dari Indonesia.
(dnu/dnu)










































