Disampaikan tim APE Crusader dari Centre for Orangutan Protection (COP) dalam rilis yang diterima pada Rabu (4/5/2016) bahwa pada Selasa, 3 Mei kemarin Balai Taman Nasional Kutai (TNK) mendapat informasi dari warga Desa Kandolo, Kecamatan Teluk Pandan, Kutai Timur, tentang adanya orangutan yang terjerat di sekitar kampung mereka. Balai TNK langsung bergerak dan membawa orangutan tersebut ke Kantor Seksi TNK di Sangkima.
Jerat yang melukai orangutan di TN Kutai Kaltim (COP) |
Tim APE Crusader berkoordinasi dan melihat langsung orangutan tersebut, kemudian oleh Balai TNK dibawa ke Kantor TNK di Bontang. Pagi ini dokter hewan dari tim APE Crusader COP memberikan pertolongan pertama untuk luka di kaki kiri yang diakibatkan oleh tali jerat.
Dari pemeriksaan fisik dan tindakan medis pada Rabu 4 Mei 2016 diketahui:
1. Orangutan berkelamin jantan, usia diperkirakan lebih dari 20 tahun dengan berat badan yang cukup kurus hanya 30 kg.
2. Mata bagian kanan sudah rusak susunannya dan tidak dapat difungsikan kembali (luka sudah lama dengan ditandai tidak ada peradangan di sekitar mata) dan mata kiri bagian sclera sedikit merah kecoklatan namun masih berfungsi.
3. Kaki sebelah kiri ada luka terbuka dan masih terlihat adanya tali bekas jerat. Luka terbuka ke dalam sampai tulang dengan lebar 5 cm melingkar pada pergelangan tangan, dan dipenuhi larva lalat sebanyak 400-500 ekor. Masih ada aliran darah, jaringan terlihat masih hidup, meski terdapat beberapa yang membusuk pada kulit dan daging.
Ditemukan luka pada:
1. Luka menonjol pada bawah telinga sebelah kanan dan ditemukan 1 (satu) yang diduga peluru jenis senapan angin di dalamnya.
2. Luka pada kulit bahu 3 cm
3. Luka pada kulit perut bagian kiri selebar 2cm.
4. Luka pada kulit bagian punggung 3cm.
5. Terdapat 2 luka di kulit telunjuk tangan kiri 1 cm.
6. Luka pada kulit pinggul kanan 2 cm.
Dokter tim APE Crusader COP yang merawat orangutan itu, drh Ade Fitria Alfiani kini terus mengobservasi pergelangan kaki kiri orangutan itu hingga 5 hari ke depan untuk melihat apakah terjadi kematian jaringan dan infeksi.
"Untuk membantu mempercepat penumbuhan jaringan pada lukanya kami akan memberikan obat dan vitamin serta menjaga agar kondisi tubuhnya normal kembali," jelas drh Ade.
Peluru diduga dari senapan angin (COP) |
Sedangkan Kapten APE Crusader COP Paulinus Kristianto, mengatakan orangutan yang ditemukan terluka ini akibat konflik dengan manusia.
"Ditambah adanya peluru yang diduga jenis senapan angin ini membuktikan bahwa konflik manusia dan satwa liar di Kalimantan Timur cukup tinggi. Ini kalau menurut panduan Mitigasi Konflik Manusia dan Orangutan yang dikeluarkan oleh Forum Orangutan Indonesia (FORINA) disebabkan salah satunya karena hilangnya hutan dengan konservasi tinggi. Orangutan hidupnya menjadi 'bergabung' dengan manusia dan terjadilah korban yang kita lihat hari ini.", ungkap Paulinus Kristianto, Kapten APE Crusader dari COP.
Sebelumnya, orangutan juga ditemukan mati mengapung di Sungai Sangatta, sekitar Jl Rawa Indah, Kecamatan Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur pada Minggu (1/5) siang lalu.
Senin siang (2/5) drh Ade Fitria Alfiani dari COP bersama dengan Polres Sangatta dan Balai TNK melakukan nekropsi untuk mayat Orangutan di RSUD Kudungga, Sangatta, atas permintaan dari Polres Sangatta untuk bahan awal dilakukan penyidikan jika ditemukan adanya indikasi kematian oleh sebab manusia.
Orangutan yang ditemukan mati mengapung di Sungai Sangatta (COP) |
Setelah dilakukan nekropsi, drh Ade menyatakan betul yang ditemukan di sungai Sangatta kemarin adalah satwa orangutan, berkelamin jantan dan diperkiraan umurnya 25 tahun.
"Ada beberapa lebam di bagian tubuhnya seperti di pipi/cheekpad, punggung bagian kiri, betis bagian kiri, bahu sebelah kanan dan dada bagian depan," jelas dr Ade.
Setelah dilakukan nekropsi mayat orangutan dikuburkan di dalam kawasan Taman Nasional Kutai, Senin sore bersama dengan tim Polres Sangatta, TNK dan COP.
(nwk/nrl)












































Jerat yang melukai orangutan di TN Kutai Kaltim (COP)
Peluru diduga dari senapan angin (COP)
Orangutan yang ditemukan mati mengapung di Sungai Sangatta (COP)