Armada untuk Patroli di Selat Malaka Sangat Minim
Jumat, 18 Mar 2005 15:03 WIB
Pekanbaru - Walau dengan armada yang serbat terbatas, Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Dumai tetap mengamankan wilayah Selat Malaka yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Untuk berpatroli wilayah yang luas itu, TNI AL hanya menggunakan dua kapal, KAL Tedung dan KAL Jemur. Selat Malaka sebagai jalur pelayaran internasional yang berbatasan dengan negara tetangga Malaysia itu, termasuk daerah rawan aktivitas penyelundupan. Ini belum lagi, wilayah Selat Malaka di perairan Riau, juga dikenal sebagai daerah yang rawan akan perompakan, termasuk perompakan yang dilakukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) terhadap sejumlah kapal yang berlayar.Lanal Dumai, di bawah tampuk pimpinan Letkol Laut Nora Lelyana- di bawah Lantamal I di Belawan ini, memiliki cakupan wilayah tugas yang lumayan luas. Mulai dari kawasan perairan Kabupaten Rokan Hilir-Riau, sampai ke peraiarn Tanjung Tiram, Kabupaten Asahan Sumatera Utara.Kasus sengketa Blok Ambalat juga berimbas ke semua Lanal yang ada di Indonesia, terutama yang memiliki wilayah tugas perbatasan dengan sejumlah negara. Termasuk, Lanal Dumai yang wilayahnya sangat berdekatan dengan Malaysia. Sengketa Blok Ambalat memgantarkan TNI AL di Dumai untuk terus meningkatkan patroli di kawasan perbatasan.Selasa (15/03/2005), detikcom bersama 17 anggota TNI AL berlayar dengan KAL Tedung menyusuri wilayah perbatasan. Kapal panjang 20 meter berkecepatan 30 knot itu, berlayar menelusuri wilayah laut Selat Malaka. Di hari yang sama itu, setidaknya telah terjadi perampokan di tengah laut. Yakni sebuah kapal berbendera Jepang dan Filipina dirompak di perairan Malaysia. Waktu bersamaan pula, kapal Tri Samudra milik PT Humpuss juga dirampok komplotan GAM di wilayah Pulau Berhala, Sumatera Utara.Karena itu pula, KAL Tedung selain mengawasi pulau-pualu yang berbatasan langsung dengan Malaysia, sekaligus mengawasi kalau-kalau para perampok laut melintas di wilayah tugas KAL Tedung. Bagi Lanal Dumai, kendati dengan serba armada yang terbatas, namun hal itu tidak menyurutkan mereka untuk tetap mengawasi sejumlah pulau-pulau kecil yanga ada di Selat Malaka.Setidaknya di Selat Malaka itu, ada sepuluh pulau kecil yang semuanya disebut kawasan pulau Arwah. Di sanalah, KAL Tedung terus mengamati semuak aktivitas pelayaran yang melintas di Selat Malaka. Salah satu pulau yang menjadi Pos TNI AL, adalah Pulau Jemur yang luasnya hanya 3 hektar di tengah laut tanpa ada penduduk. Yang ada hanya 6 anggota TNI yang bertugas di Pos Jaga, dan 4 sipil yang bertugas sebagai navigasi.Sunyi senyap. Hanya terdengar hempasan ombak ke batu karang di pantia Pulau Jemur. Begitulah kesan pertama ketika KAL Tedung merapat di Pulau Jemur yang indah dengan kawasan pantainya. KAL Tedung memang tidak bisa langsung merapat ke pulau Jemur sebagai perbatasan dengan negara tetangga itu. Dibantu dengan kapal kecil terbuat dari kayu dengan ukuran 12x2 meter, KAL Tedung mengantarkan personel TNI AL dan wartawan untuk bisa menginjakkan kaki di pulau tersebut.Dari Pulau Jemur itu, anggota TNI AL melakukan pengamatan lewat teropong. Dari sanalah, TNI AL mengetahui, setiap siang hari sedikitnya 400 kapal melintas di jalur internasional di Selat Malaka. Ini belum lagi bila dihitung pengamatan pada malam hari. "Yang jadi kendala, malam hari kita tidak bisa mengamati jalur pelayaran itu. Sebab, kita hanya menggunakan teropong. Jangankan malam hari, kalau musim asap saja, kita sudah tidak bisa memantau pakai teropong," kata Danlanal Dumai Letkol Nora Lelyana kepada detikcom di Pulau Jemur.Setelah beristirahat satu malam di Pulau Jemur, KAL Tedung melanjutkan pelayarannya menuju Pulau Batu Mandi. Pulau ini merupakan salah satu pulau terluar di Indonesia yang langsung berbatasan dengan pelayaran Internasional atapun berbatasan dengan Malaysia. Kalau dari Pulau Jemur ke Malaysia memakan waktu paling lama 2 jam, dari Pulau Batu Mandi, waktu tempuh hanya satu jam.Pulau Batu Mandi yang luasnya hanya 500 meter persegi ini cukup indah. Datarannya sebagian besar merupakan batu karang, memiliki ketinggian 8 meter dari laut. Kalau waktu pasang, maka yang tersisa di pulau hanya hanya tinggal satu meter. Di sisa daratan itulah, enam bulan silam, jauh sebelum kasus sengketa Ambalat, pihak Lanal Dumai telah memancangkan tiang bendera merah putih dari besi anti karat di pulau tersebut. Pemancangan Merah Putih itu dilakukan sebagai upaya salah satu bentuk pengamanan dan sebagai tanda bahwa pulau itu masih merupakan wilayah NKRI."Pulau Batu Mandi ini merupakan pulau terluar di wilayah Indonesia Bagian Barat. Karena itu kita diperintahkan untuk selalu melakukan patroli di kawasan ini. Sebab, pulau inilah yang paling dekat dengan Malaysia," kata Nora.Bila melihat cakup wilayah tugas yang luas itu, memang dirasakan armada milik Lanal Dumai sangat tidak mendukung. Lanal Dumai hanya memiliki dua kapal patroli. Satu KAL Tedung dan yang kedua KAL Jemur. Dua kapal inilah yang saban hari terus memantau wilayah tugas di perbatasan. Sedangkan lima kapal keicl lainnya yang terbuat dari kayu juga turut mendukung tim patroli tersebut. "Armada kita memang terbatas, tapi hal itu tidak menyurutkan kita untuk tetap melakukan patroli di wilayah perbatasan," kata Nora.
(asy/)











































