"Sudah enggak benar itu. Sekolah harus tegas karena mereka melakukan kekerasan. Kalau sekolah enggak ngapa-ngapain, itu sama saja seperti mengajar kekerasan dan membolehkannya," ujar Tika saat dikonfirmasi detikcom, Rabu (4/5/2016).
Menurut Tika, secara psikologis siswi-siswi yang melakukan bullying itu memiliki masalah. Akan tetapi dikarenakan mereka tidak bisa menyalurkan ke hal-hal yang positif, maka melampiaskannya dengan cara melakukan kekerasan baik verbal maupun fisik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Si pembully itu anak yang bermasalah. Sebetulnya dia yang butuh bantuan psikologis. Korban ini hanya alat untuk pembully mendapatkan mentalnya lagi. Skors dulu saja sama sekolah, sanksi harus tetap jalan," tutup Tika.
Sebelumnya diberitakan, aksi bullying yang dilakukan siswa Kelas XII SMA 3 Jakarta kepada adik kelasnya direkam dalam video berdurasi 37 detik yang tersebar dalam media sosial. Dari video itu terucap kata-kata makian ke para siswi junior. "Perek perek perek," demikian kata yang terucap dalam video itu.
Tidak lama terlihat ada siswi yang diguyur kepalanya dengan air di botol. Setelah itu ada siswi memakai bra di luar baju sekolah, dan dipaksa merokok. Siswi itu terlihat menunduk dan mengusap matanya. Belum diketahui motif siswi senior itu melakukan bullying.
Menurut Kepala Sekolah (Kepsek) SMA 3 Jakarta Ratna Budiarti tindakan itu dilakukan karena para siswi Kelas XII tidak setuju bila adik kelas mereka pergi ke tempat hiburan malam. (aws/dra)











































