"Politik kita kini menjadi politik personal bukan politik partai. Partai pelan-pelan mulai kekurangan peran di mata masyarakat saat ini," ujar Direktur Eksekutif CSIS Philips Vermonte di Auditorium Badan Litbang Kemendagri, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Selasa, (3/5/2016).
Pemaparan itu disampaikan Vermonte dalam bedah buku karya Mendagri Tjahjo Kumolo yang berjudul "Politik Hukum Pilkada Serentak". Selain Vermonte, hadir narasumber lain, yaitu Wali Kota Bogor Bima Arya, Anggota Komisi II DPR RI fraksi PDIP Budiman Sudjatmiko, dan kepala Balitbang Kemendagri Domoe Abdi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Buat masyarakat, partai politik nomer paling bawah dalam proses pemilihan. Ketika sudah cocok dengan calon pemimpin dengan karakteristik-karakteristik tertentu, maka oa akan dipilih," ujar dia.
"Puncak gunung esnya terjadi di Jakarta. Kita bisa melihat fakta tentang hal yang saya sampaikan terjadi," imbuhnya.
Namun, Vermonte tetap menilai parpol dan demokrasi tidak bisa dipisahkan. Menurutnya, partai harus segera berbenah dalam waktu cepat agar deparpolisasi tidak terjadi.
"Tulang punggung demokrasi tetap partai politik. LSM harus banyak, karena bisa menekan partai politik agar mereka bisa berjalan sesuai dengan koridornya. Deparpolisasi adalah hal yang sangat buruk bagi perpolitikan Indonesia," ucapnya. (tor/tor)











































