"Nasi, ikan, mie instant, makan dalam sehari bisa sekali atau dua kali," kata Alfian berbagi kisahnya di rumahnya di Priok, Jakut, Selasa (3/5/2016).
"Apa yang mereka makan, kita makan. Apa yang mereka minum kita minum. Mereka tidur di mana, kitapun tidur di situ. Kita jalan mereka jalan," sambung dia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita 3 hari sebelumnya sudah dikasih tahu bahwa akan ada eksekusi orang Kanada, tapi itulah mungkin karena kasih karunia Tuhan makanya kita dikuatkan saja lah. Makanya kita bersepuluh bisa selamat sampai sekarang. Mereka komunikasikan (eksekusi orang kanada) ke kita dengan baik," jelasnya.
Sandera pernah dipisah dibagi dua kelompok. Pemisahan bukan soal agama, tetapi menghindari razia militer Filipina dan kemudahan bergerak.
Hingga akhirnya akhir April lalu, pembebasan itu datang. Mereka dibangunkan dan diminta beres-beres.
"Pas dilepasin masih kaya mimpi saja, jadi kita masih tidur dibangunin. Suruh beres beres, kita pindah dari hutan itu jalan ke pantai, jalan lagi pindah pulau. Lalu mereka (penyandera) bilang, mungkin hari ini kalian kembali ke Indonesia. Ternyata doa kita selama ini didengar Tuhan. Puji tuhan," urai dia.
Lalu apakah Alfian kapok atau trauma berlayar ke Filipina? "Tidak. Masih akan berlayar jika kondisi sudah memungkinkan," tutup dia.
![]() |












































